in

Menetaskan “Telur” Garuda: Solusi Mengatasi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia

Pembukaan Pameran Lambang Negara dengan pemutaran film dokumenter produksi MKAA di Gedung Pancasila, tahun 2012


Oleh: Nur Iskandar

Tidak banyak orang tahu dan mahu tahu tentang kearifan-kearifan lokal yang telah diserap ke dalam lambang negara Elang Rajawali Garuda Pancasila. Padahal di sana telah terkandung idiologi sebagai falsafah berdirinya Republik Indonesia. Digali dari nilai-nilai luhur budaya bangsa. Jika kearifan kearifan lokal ini diketahui, dipahami dan diamalkan, akan aman-tenteram, makmur-sejahtera Nusantara. Garuda telah menjadi perekat utama bangsa kita.

Indonesia akan aman dari segala ancaman maupun tantangan, baik dalam bentuk radikalisme maupun terorisme. Demikian karena terwujud suatu sistem pertahanan keamanan secara semesta, dengan seluruh kekuatan rakyat sebagai intinya. Garuda telah terbukti Cakti. Telah diuji kedigdayaannya oleh berbagai huru-hara.

Pelaku bom bunuh diri yang menyeruak di kalangan remaja, pemuda, bahkan perempuan akibat ketidak-mengertiannya akhir-akhir ini di Indonesia, adalah akibat terjauhkan dari sejarah bangsanya sendiri, sehingga menjadi korban indoktrinisasi ataupun dogmatisasi. Jika “telur” Garuda bisa ditetaskan, pasti radikalisme dan terorisme bisa diantisipasi, bahkan sedapat mungkin dinihilisasi. Stop korban kekerasan atas nama apapun. Termasuk atas nama agama.

Kegelisahan sebagai warga bangsa yang mengerti ilmu seni dan budaya Indonesia muncul dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam dua dekade ini. Adalah seniman Nanang P Hidayat mendirikan Rumah Garuda. Dia prihatin, masyarakat kurang mengenal lambang negara sehingga Garuda ditampilkan sekenanya. Hal ini menurutnya adalah ekspresi dari ketidak-kenalan mereka dengan figur lambang negara. Kongruen dengan menanjaknya masalah-masalah bangsa seolah-olah kita tidak punya falsafah dalam menyelesaikannya. Padahal proses penciptaan lambang negara kental dengan kearifan-kearifan lokal seluruh Indonesia. Adiluhung teks maupun konteksnya. Jika dikuasai, teks dan konteks itu justru sebaliknya, menjadi “bom” dahsyat yang selalu relevan menumpas persoalan-persoalan kebangsaan. Tak terkecuali radikal-terorisme.

“Ada Garuda yang dipasang miring. Ada Garuda yang bolong. Ada Garuda yang lentur dan luntur. Ada yang macam-macam,” ungkap Nanang P Hidayat diwawancarai di Pontianak. Nanang memotret kondisi objektif-lapangan segala keadaan Garuda Pancasila di seluruh pelosok. Baik di ruangan, maupun luar ruang. Baik di kelas-kelas sekolah, kampus-kampus, hingga ke gapura-gapura, kampung-kampung. Nanang menghimpun potretannya dalam sebuah buku “Mencari Telur Garuda.”

Nanang saya wawancarai saat berkunjung dalam sebuah tim ekspedisi. Ekspedisi menggali kesejarahan lambang negara di Kota Pontianak–Kota Khatulistiwa–kota di mana sang perancang Sultan Hamid II Alkadrie–Menteri Negara Zonder Portofolio Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) dilahirkan, 12 Juli 1913 – wafat di Jakarta 30 Maret 1978 dan dimakamkan di makam kesultanan, Batulayang-Pontianak. Saya menemani Nanang P Hidayat “dolan-dolan” di ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Nanang setia menenteng sebuah tas hitam dengan lambang negara Elang Rajawali Garuda Pancasila kemana-mana dengan maksud “membumikan” Pancasila.
“Penggunaan warna hitam pada tas adalah cermin duka saya atas kurang dikenalnya falsafah Garuda Pancasila. Warna putih pada garis lambang negara adalah simbol perjuangan saya untuk membumikan Pancasila. Saya mencari ‘telur Garuda’ lambang negara kita untuk ditetaskan,” ungkapnya.

Rumah Garuda yang dibangun Nanang P Hidayat di Kota Yogyakarta dekade awal milenial menjadi oase falsafah negara di tengah ketidak-mengertian kedalaman lambang negara bagi penduduk Nusantara. Rumah Garuda miliknya dibuka seperti museum negeri layaknya di seluruh persada negeri Ibu Pertiwi. Efektif. Dikunjungi oleh ribuan pelajar dan pelancong domestik maupun mancanegara. Sesekali ada pula lomba mewarnai bagi siswa Taman Kanak-Kanak. Tidak hanya dari DIY, tetapi juga dari berbagai kota di sekitarnya. Termasuk bagi anak-anak bangsa yang mengetahui adanya Rumah Garuda dari dunia maya.

Ribuan kepala setiap tahunnya yang datang bertandang menjadi energi menetasnya “telur-telur” Garuda. Generasi baru dengan semangat Indonesia baru. Indonesia Raya-Indonesia Kaya-Indonesia Jaya.

Harga Tanda Masuk hanya Rp 500 rupiah. Bea yang sangat murah setiap kepala untuk merawat Indonesia. Untuk “meruwat” Nusantara.

Begitu cara yang ditempuh Nanang P Hidayat untuk membumikan Garuda, sekaligus menjadi solusi atas masalah-masalah Bangsa Indonesia. Tak terbilang gamblang mereduksi nafsu radikalitas maupun niatan menjadi teroris.

Pada hari pahlawan, 10 Nopember 2020 dewan juri Festival Nadi Khatulistiwa (Fena-2020) telah menetapkan nama Nanang P Hidayat sebagai penerima “Livetime Achievment Award” atas jasa-jasanya membumikan Pancasila melalui pendekatan seni dari tampilan lambang negara dimana kental dengan unsur-unsur kearifan lokal Nusantara. Tak terkecuali cara hebatnya menetaskan telur Garuda lewat sosialisasi sejarah Lambang Negara dengan cara kesenian wayang. Selama ini pun kurang digali serta dikreatifisir lalu direfresentasikan kepada publik Jawa maupun publik Tanah Air.

Nanang P Hidayat hadir di Kota Pontianak dengan tas “membumikan Pancasila” versi seniman yang mendirikan Rumah Garuda di Daerah Istimewa Yogyakarta


Kegelisahan yang sama menimpa Menteri Luar Negeri Dr Marti Martalegawa. Sebagai diplomat dia kerap ditanya tetamu mancanegara tentang betapa indahnya lencana yang dimiliki bangsa Indonesia. Garuda Pancasila yang kepak sayap melambangkan proklamasi kemerdekaan 17-8-(19-45).

Kepak sayap melambangkan angka 17. Gerai ekor sejumlah delapan, cerminan bulan Agustus. 19 helai bulu pada pangkal ekor, dan 45 di leher perlambang tahun 1945.
Marti Martalegawa menjabat Menteri Luar Negeri pada era Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Ia mengaku tidak tahu detail setiap tampilan lambang negara dalam Garuda.

Penasaran dengan kenyataan pertanyaan para diplomat manca, Marti kemudian membentuk tim dengan rujukan keilmiahan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemenlu, yakni Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA). MKAA kemudian bekerja dengan standar prosedural ilmiah untuk mencari tahu kedalaman lambang negara sampai ke kearifan-kearifan lokalnya.

MKAA kemudian mempresentasikan hasil riset ilmiahnya dalam bentuk film dokumenter. Film dokumenter itu ‘dilaunching’ dalam forum ilmiah nasional, sekaligus naik tayang di kanal YouTube sejak delapan tahun yang lalu. 2012. Kini telah ditonton oleh 25.000 pasang mata. [Silahkan klik di platform YouTube: Indonesian Symbol]. 25 ribu pasang mata yang mafhum sejarah detail Lambang Negara akan menjadi agen menetasnya telur-telur Garuda yang bersublim pada rahim falsafah Pancasila.

Kemenlu menampilkan kajian ilmiah MKAA ini dalam sebuah seminar di Gedung Pancasila bersama Sekretariat Negara. MKAA tampil sebagai pembicara, termasuk Nanang P Hidayat. Melalui MKAA juga diketahui adanya riset tesis sejarah hukum lambang negara yang diteliti pakar hukum tata negara dari Universitas Tanjungpura, Turiman Faturrahman Nur, SH, M.Hum.

Turiman menyelesaian riset tesisnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1999 saat di mana Indonesia sedang dilanda euforia reformasi total. Di Setneg Turiman membentangkan makalah sejarah hukum lambang negara dengan rujukan fakta-fakta sejarah sejaman. Termasuk kesaksian Dwi Tunggal Soekarno-Hatta. Kemenlu dan Setneg menjadi saksi revitalisasi sejarah adiluhung Bangsa Indonesia pada 2012.

Wayang Garuda milik Nanang P Hidayat dalam genggaman tangan Turiman Faturrahman Nur, SH, M.Hum peneliti sejarah hukum Lambang Negara, pakar hukum tata negara Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura

Dari pertemuan ilmiah di Gedung Pancasila dan Sekretariat Negara itulah, Nanang P Hidayat mengunjungi Kota Pontianak. Tarikh Masehinya ber-angka 2013. Ia berdiskusi panjang lebar bersama Turiman Faturahman Nur dan saya, berikut kawan-kawan pegiat sejarah. Tak terkecuali Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat yang baru saja terbentuk waktu itu.

Pertemuan dengan kajian kearifan lokal lambang negara dilakukan di halaman dapur redaksi Teraju.Id. Dimulai pukul 19.30 berakhir menjelang dini hari pukul 00.00 WIB.
Seru dan asyik sekali menyelami Bapak Bangsa, ‘founding fathers’ Indonesia merumuskan lambang negara yang hingga kini menghiasi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Seluruh lembaga negara menggunakan lambang Garuda Pancasila. Begitu di Setneg, Kemenlu, KPK, bahkan BNPT. Namun sayang seribu sayang kurang ditangkap pesan kearifan lokal di dalamnya yang sangat kaya dan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, warisan budaya leluhur Bumi Nusantara.


Menteri Penerangan Republik Indonesia Serikat Prijono menyelenggarakan lomba desain lencana negara setelah 5 tahun Indonesia merdeka, namun tidak memiliki lambang negara. Adapun bendera merah putih telah disepakati sejak pra-kemerdekaan. Begitupula dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya telah mewarnai perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Sejak Sumpah Pemuda, 1928.

Dari ratusan naskah yang diterima Menpen Prijono ada dua lambang negara yang diterima sebagai jawara. Kedua naskah itu adalah rancangan tangan Prof Dr Muhammad Yamin dan Mayjen KNIL Sultan Hamid II Alkadrie.

Karya Muhammad Yamin ditolak parlemen RIS karena adanya sinar-sinar matahari terbit yang menyiratkan Tenno Heika-Jepang. Sedangkan lambang negara karya Sultan Hamid diterima karena menyiratkan Proklamasi 17/8/1945. Lambang negara karya Sultan Hamid diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soekarno pada 11 Februari 1950. Bung Karno bahkan memberikan disposisi perbaikan lambang negara pada 20 Februari 1950 agar lebih sempurna.

Disposisi Bung Karno yang disalin ulang sesuai aslinya


Menonton Film Dokumenter Lambang Negara produksi MKAA, Ketua FKPT Kalbar yang juga Sekda Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie membuka Pameran Lambang Negara serupa yang dikerjakan MKAA di Gedung Pancasila, 18/8/2013. 3000 warga memenuhi Gedung Arsipda Kalbar selama 3 bulan pameran. Yakni pada rangkaian peringatan Hut Kemerdekaan RI hingga Peringatan Sumpah Pemuda. Sebelumnya juga digelar sejumah diskusi terfokus dengan melibatkan peneliti seperti Turiman Faturrahman Nur serta Panglima Burung, Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting. Panglima Burung bahkan ikut mendampingi Sultan Hamid rapat penetapan lambang negara di Hotel Des Indes, tahun 1950. Saya masih berjumpa dan akrab berwawancara bersama Massuka.

Keterangan Panglima Burung dalam FGD maupun peluncuran buku biografi politik Sultan Hamid II Sang Perancang Lambang Negara (Gedung Pontianak Convention Centre, 2013), bahwa Menteri Negara Jang Moelija (J.M) Sultan Hamid telah pula turun ke Kerajaan Sintang dengan pesawat capung untuk menambah referensi figur apakah yang sebaiknya tepat dipilih sebagai sosok lambang negara mewakili keragaman Indonesia. Agar menjadi alat pemersatu bangsa.

Buku Saku terbitan MKAA, UPT Kemenlu RI dengan “cover” lambang negara yang didisposisi Presiden Soekarno, 20 Februari 1950

“Kami mengusulkan burung Ruai dan Burung Enggang,” kata Massuka Djanting. Alasannya Ruai adalah burung cerdas dan bersih. Sarang dibangunnya dengan sangat teliti dan hati-hati. Namun Ruai ditolak Hamid karena berhabitat perbukitan. Dia terbang rendah. “Lambang negara mesti terbang tinggi dengan gagah berani,” kutip Massuka Djanting yang juga tokoh adat Dayak Taman. Dayak Taman bermukim di Putussibau, daerah tapal batas NKRI dan Malaysia. Antara Badau dan Lubuk Antu.
Figur Enggang yang dikeramatkan suku Dayak di Kalimantan juga ditolak Mayjen KNIL Sultan Hamid padahal indah dan punya korsa setia, bahkan menjadi mitos sebagai Dewa bagi aliran kepercayaan, animisme maupun dinamisme, agama leluhur adat turun temurun. Demikian karena enggang berhabitat hutan, dan tinggal di pucuk-pucuk pohon semata-mata–tidak egaliter. Enggang tidak melanglang buana menguasai angkasa. Hamid masih meneruskan riset–atau pencarian artefak ilmiahnya–untuk Indonesia Merdeka.

Sampailah Hamid berjumpa Residen Sintang, Ade Mohammad Djohan. Darinya Sultan Hamid membawa lambang kerajaan Sintang yang menggunakan profil Garuda. Garuda ini warisan Patih Lohgender dari Kerajaan Majapahit yang mempersunting anak Raja Sintang, Dara Juanti abad ke-14. Garuda telah hadir sebagai barang hantaran perkawinan Majapahit dan Sintang di gamelan serta gong dan diabadikan Kerajaan Sintang sebagai lambangnya sejak diikat tali pernikahan Patih Lohgender-Dara Juanti.

Sintang adalah wilayah yang tapal batasnya vis a vis dengan Negeri Jiran, Sarawak, Malaysia. Sultan Hamid tertarik karena Sintang menjadi simbolisasi mengamankan perbatasan – tapal batas wilayah Negara Indonesia Merdeka.

Figur Garuda dari Sintang itu cocok dengan masukan pendiri Taman Siswa di Yogyakarta, guru teladan Nusantara, Ki Hajar Dewantara kepada Sultan Hamid ketika merancang lambang negara sebelum Hamid mendarat di Sintang dengan pesawat capungnya. Ki Hajar Dewantara memberikan banyak foto Garuda yang telah abadi di goresan candi-candi sebagai peninggalan peradaban adiluhung yang bersemedi di Jawa. Peninggalan tokoh Brawijaya dengan Majapahit yang menguasai samudera.

Sultan Hamid mengakui bahwa pemilihan figur Garuda adalah sesuatu yang paling berat dalam merancang lambang negara. Begitupula dengan memasukkan butir idiologi Pancasila di dalam perisainya.

Hamid atas masukan tokoh Masyumi Muhammad Natsir mengganti figur Garuda menjadi elang rajawali, karena Garuda adalah mitos dan legenda. Dipilihlah figur Elang Rajawali karena endemik di garis Khatulistiwa. Elang punya sifat egaliter dan selalu terbang tinggi dengan gagahnya. Klop mewakili Nusantara. Cakarnya tajam. Sorot matanya brilian.

Elang juga menjadi figur yang banyak dipilih oleh negara-negara maju lainnya.Tak terkecuali Amerika Serikat, Mesir dan Polandia. Hal itu dia pelajari dari dalam ilmu arsitektur di ITB saat ia setahun menimba ilmu keteknikan, serta ilmu militer yang diselesaikannya di Breda, Belanda.

Faktor tersulit kedua dari proses rancangan lambang negara yang sampai kini kita pergunakan adalah perisai. Perisai ditemukan sebagai simbol pelindung dari segala ancaman maupun tantangan berbangsa dan bernegara, lalu apa isi tameng itu? Ditampilkanlah simbol-simbol kearifan lokal Nusantara. Simbol itu adalah bintang, rantai, beringin, banteng, padi dan kapas.

Kearifan lokal dalam bentuk dua perisai. Perisai besar dengan perisai kecil berwarna hitam laksana jantung–sebagai pola kiblat / kakbah–dengan merah-putih bertawaf sekelilingnya

Sultan Hamid sang perancang ‘the founding fathers’ Republik Indonesia bersama Soekarno-Hatta dan tokoh-tokoh lainnya mewariskan lambang negara yang eksotik namun juga heroik. Melalui pertanyaan wartawan Solichin Salam, Sultan Hamid menulis panjang tentang kearifan-kearifan lokal pada figur lambang negara Elang Rajawali Garuda Pancasila. Surat ini juga dimuat dalam buku saku terbitan MKAA. Berikut sebagian petikan penting terkait kearifan lokal Lambang Negara, 15 April 1967:
[… Padjuka Jang Mulia Presiden Soekarno memerintahkan kepada saja agar melambangkan ide Pantja-Sila ke dalam gambar pada lambang negara dan berkali-kali diutjcapkan beliau kepada saja, tetapi pesan beliau djuga gambar itu haruslah mengangkat simbol-simbol yang ada pada peradaban bangsa Indonesia agar setara dan gambarnya seharmonis mungkin, seperti lambang-lambang negara besar lain di dunia, karena Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno jakinkan kepada saja, menurutnja karena saja pernah bersama Paduka Jang Mulia ketika itu saja mengambil Jurusan Teknik Sipil satu tahun di Technische Hoogeschool (T.H.S) Bandung, walaupun akhirnya saja tidak menyelesaikan kuliah itu, berhubung saja diterima di K.M.A Breda Negeri Belanda.

Terus-menerus beliau mejakinkan saja, bahwa pasti saja paham dalam hal ini menggambar struktur lambang. Untuk itu kemudian saja mengadjukan kepada Paduka Jang Mulia pada agenda sidang kedua Kabinet RIS tanggal 10 Januari 1950 untuk membentuk kepanitiaan teknis lambang negara RIS yang diketuai oleh Mr. M. Jamin, dan jang lain Ki Hadjar Dewantara (anggota), M.A. Pellaupesi (anggota), Moh Natsir (anggota) dan R.M. Ng. Purbatjaraka (anggota). Kepanitiaan ini di bawah koordinator saja yang bertugas menjeleksi/memilih usulan-usulan rantjangan lambang negara untuk dipilih dan diadjukan kepada Pemerintah untuk ditetapkan oleh Parlemen RIS setjepatnya, karena memang selama 5 tahun sedjak Negara R.I merdeka, 17 Agustus 1945, sampai dengan terbentuknya RIS tahun 1949, belum ada memiliki lambang negara.

Untuk memberikan pemikiran teknis saja selaku Menteri Negara Zonder Portofolio RIS 1949 – 1950 dan Koordinator Panitia Lambang Negara meminta Ki Hadjar Dewantara untuk memberikan sumbangan pemikiran tentang hasil-hasil penelitian lambang-lambang negara.

….Saja membuat sketsa berdasarkan masukan Ki Hadjar Dewantara dengan figur Garuda dalam mitologi jang dikumpulkan oleh beliau dari beberapa tjandi di Pulau Djawa dikirim beliau dari Djogjakarta, dan tidak lupa saja djuga membandingkan salah satu simbol Garuda jang dipakai sebagai Lambang Kerajaan Sintang, Kalimantan Barat, tetapi hanja merupakan salah satu bahan perbandingan antara bentuk Burung Garuda jang berada di candi-candi di Djawa dengan luar Djawa. Karena secara historis Kerajaan Sintang masih ada hubungan dengan Kerajaan Madjapahit, seperti di dalam Legenda Daradjuanti dengan Patih Lohgender, demikian keterangan Panglima Burung menjelaskan kepada saja di Hotel Des Indes awal Februari 1950.
Di samping itu, saja djuga mempergunakan bahan-bahan lambang negara lain jang djuga figurnya burung elang/jang mendekati burung Garuda dan saja tertarik dengan gambar-gambar lambang negara dan militer negara Polandia, karena latar belakang pendidikan saja ketika di K.M.A Breda djuga memperlajari makna lambang-lambang militer berbagai negara dan lambang-lambang negara di Eropa dan negara-negara Arab, serta Amerika djuga di kawasan Asia jang memakai figur burung.

…Perlu saja jelaskan, bahwa jang paling sulit ketika mencarikan simbol-simbol jang tetap untuk melambangkan ide Pantja-Sila, saja awali dengan mentjoba untuk membuat rentjana tameng/perisai dengan mentjoba untuk membuat rentjana tameng/perisai yang menempel pada figur burung garuda, karena lambang-lambang pada negara lain jang mempergunakan figur burung selalu ada tameng/perisai di tengahnja. Pertama saja membuat sketsa awal perisai jang saja bagi mendjadi lima ruang dan sebagai tanda perisai jang membedakan dari perisai yang dibuat Mr. M. Jamin, kemudian saja buat dua buah perisai di dalam dan di luar dengan garis agak tebal jang membelah perisai untuk melambangkan garis equator (khatulistiwa) di perisai itu.

Walaupun demikian, saja djuga meminta anggota dalam Panitia Lambang Negara untuk menjumbangkan pemikiran jang berhubungan dengan simbol-simbol ide Pantja-Sila, seperti pesan Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno, ada jang menjarankan simbol keris, banteng, padi kapas, kemudian saja menambahkan Nur Tjahaja berbentuk bintang persegi lima atas masukan M. Natsir sebagai simbol ke-satu Pantja-Sila, djuga masukan dari R.M. Ng. Purbatjaraka, jakni Pohon Astana jang menurut keterangannya pohon besar sejenis pohon beringin jang hidup di depan Istana sebagai lambang pengajoman dan perlindungan untuk melambangkankan sila ke-tiga, karena menurut beliau Pohon Astana memaknai simbol menjatunja rakyat dengan istana itulah djuga hakekat Negara RIS jang sebagian besar ketika itu didirikan di luar Negara Proklamasi RI, 17 Agustus 1945.

Oleh keradjaan-keradjaan dan simbol selanjutnya tali rantai bermata bulatan melambangkan perempuan dan bermata persegi melambangkan laki-laki jang sambung menjambung berjumlah 17 sebagai simbol regenerasi jang terus menerus. Mengenai simbol ini inspirasinya saja ambil dari tanah Kalimantan, jakni kalung dari Suku Dayak, demikian djuga untuk perisainja, setelah bertukar pikiran dengan para Panglima Suku Dayak di Hotel Des Indes, awal Februari 1950 jang saja ajak ke Djakarta ketika itu.

Salah satunya Panglima Burung, Masuka Djanting, J.C. Oevaang Oeray, sahabat saja di Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB), lambang lain kepala banteng, sebagai sila keempat ini, sumbangan sebagai lambang dasar kerakjatan/tenaga rakjat padi-kapas lambang sila-kelima sumbangan dari Ki Hadjar Dewantara sebagai perlambang ketersediaan sandang dan papan/simbol tudjuan kemakmuran, semua itu saja bitjarakan di Hotel Des Indes yang merupakan tempat saja membuat gambar lambang negara sekaligus saja tinggal sementara di Djakarta sebagai Menteri Negara RIS sampai dengan 5 April 1950, saja ditangkap atas Perintah Jaksa Agung jang akhirnja saja ‘terseok’ dalam perdjalanan sedjarah sebagai anak bangsa. Itu mungkin tjiptaan saja terpendam mudah-mudahan pendjelasan kepada Saudara Salam, mendjadi terang adanja.

Saja putuskan tjiptaan pertama berbentuk figur burung Garuda jang memegang Pantja-Sila, seperti masukan Ki Hajar Dewantara jang diambil dari mitologi garuda pada peradaban Bangsa Indonesia, tetapi ketika gambar lambang negara ini saja bawa ke dalam Rapat Panitia Lambang Negara, 8 Februari 1950, ternjata ditolak oleh anggota Panitia Lambang Negara RIS lain, karena ada keberatan dari M. Natsir ada tangan manusia jang memegang perisai berkesan terlalu mitologi dan feodal, djuga keberatan anggota lain R. M. Ng. Purbatjaraka terhadap djumlah bulu ekor tudjuh helai, terus terang jang mengusulkan tudjuh helai ini adalah Mr. M. Jamin.

Untuk itu saja mintakan dalam rapat, Mr. M. Jamin ketika itu mendjelaskan makna tudjuh helai bulu ekor selaku Ketua Panitia Lambang Negara, dan ada kesepakatan untuk diubah mendjadi 8 helai bulu ekor, sebagai tjandra sengkala/identitas negara proklamasi 17 Agustus 1945 atas usulan M. A. Pellaupessy jang menurut beliau tak boleh dilupakan.

Akhirnya setelah penolakan itu saja mengambil inisiatif pribadi untuk memperbandingkan dengan lambang-lambang negara luar, khususnja negara-negara Arab, seperti Yaman, Irak, Iran, Mesir, ternjata menggunakan figur burung Elang Radjawali, djuga seperti Negara Polandia jang sudah sejak ratusan tahun djuga menggunakan burung Elang Radjawali seperti jang saja jelaskan di atas dalam kemeliterannya.

Karena sosoknja lebih besar/gagah dari burung elang jang ada di Djawa dan ini simbolisasi lambang tenaga pembangunan/creatif vermogen negara dengan harapan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) mendjadi negara jang besar dan setara dengan negara-negara di dunia, sudah mendjadi kewadjaran dan demikian seharusnya.

… Kemudian lukisan itu saja potret dalam bentuk hitam putih untuk dikoreksi kembali oleh Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno dan ternjata masih ada keberatan dari beliau, jakni bentuk tjakar kaki masih ada jang mentjengkram seloka Bhinneka Tunggal Ika dari arah belakang sepertinya terbalik, saja mentjoba mendjelaskan kepada Paduka Jang Mulia, memang begitu burung terbang membawa sesuatu seperti keadaan alamiahnja.

Tetapi menurut Paduka Jang Mulia, seloka ini adalah hal jang sangat prinsip, karena memang sedjak semula merupakan usulan beliau sebagai ganti rentjana pita merah putih jang menurut beliau sudah terwakili pada warna perisai. Selandjutnya meminta saja untuk mengubah bagian tjakar kaki mendjadi mentjengkram pita/mendjadi ke arah depan pita agar tidak ‘terbalik’ dengan alasan ini berkaitan dengan prinsip ‘djatidiri’ bangsa Indonesia, karena merupakan perpaduan antara pandangan ‘federalis’ dan pandangan “kesatuan’ dalam Negara RIS.

Mengertilah saja pesan filosofis Paduka Jang Mulia itu, djadi djika ‘bhinneka’ jang ditondjolkan itu maknanja perbedaan jang menondjol dan djika ‘keikaan’ jang ditondjolkan itulah kesatuan republik jang menondjol, djadi keduanja harus disatukan, karena ini lambang Negara RIS jang di dalamnja merupakan perpaduan antara pandangan ‘federalis’ dan pandangan ‘kesatuan’ haruslah dipegang teguh sebagai ‘djatidiri’ dan prinsip berbeda-beda pandangan tapi satu djua ’e-pluribus unum’.

Walaupun saja harus susah pajah membuat sketsa kembali untuk pembetulan badan tjakar kaki itu, tetap saja mengerti ini hal bagian jang sangat penting dalam lambang Negara RIS. Karena mengandung tiga konsep lambang sekaligus, jakni pertama, burung Radjawali-Garuda Pantja-Sila jang menurut perasaan Bangsa Indonesia berdekatan dengan Burung Garuda dalam mitologi, kedua perisai ide Pantja-Sila ber-thawaf’/gilir balik, dan ketiga, seloka Bhinneka Tunggal Ika jang tertulis dalam pita warna merah putih.

Untuk itu saja meminta bantuan R. Ruhl untuk membuat sketsa dari lambang negara jang saja buat dengan membawa potret lukisan lambang negara jang dilukis oleh Dullah, karena lukisan Dullah jang gambar rantjangannnya semua tjengkeraman kakinja menghadap ke belakang telah diserahkan kepada Kementerian Penerangan RIS jang ketika itu masih berada di Jogjakarta.

Kemudian dimintakan kepada saja oleh Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno untuk tidak disebarkan dahulu ke pelosok Negara RIS. Setelah itu sketsa transkrip/outwerp jang dilukis D. Ruhl Jr saja adjukan kembali ke Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno, ternyata beliau langsung mendisposisi sebagai Wapen Negara. Waktu itu tanggal 20 Maret 1950, kemudian beliau memerintahkan untuk memanggil Dullah, sang pelukis Istana/pelukis kesajangan Bung Karno untuk melukis kembali berdasarkan sketsa perbaikan R. Ruhl tersebut, walaupun ketika itu kita harus merugi beberapa ribu rupiah lagi untuk membajar pelukis Dullah.

Hasil lukisan Dullah jang kemudian oleh Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno diperintahkan kepada Kementerian Penerangan RIS jang ketika itu saja lihat banyak warga bangsa memasang di rumah-rumah, sedangkan saja selaku pembuat gambar rantjangan lambang negara jang saja namakan Radjawali Garuda Pantja-Sila diperintahkan Paduka Jang Mulia untuk memperbaiki seperlunja, jakni membuat skala ukuran, bentuk dan tata warna, serta keterangan gambar jang ada pada simbol-simbol itu, karena mendjadi tanggungdjawab saja selaku Koordinator Panitia Lambang Negara dan Menteri Negara dalam perentjanaan Lambang Negara RIS.

Patut saja sedikit djelaskan, mengapa burung itu menoleh ke arah kanan, hal ini sebenarnja perlambang pandangan negara ke arah kebaikan ke depan, karena kanan dalam tradisi masjarakat selalu diartikan dengan arah kebaikan. Demikian salam menoleh ke kanan ketika sholat orang Islam hukumannja wajib/fardhu ‘ain.

… Jang unik dan penting untuk saja djelaskan, karena banyak jang menanjakan kepada saja, mengapa harus ada dua perisai pada perisai Pantja-Sila, sebenarnya saja hanja mendjabarkan ide Pantja-Sila dari Bung Karno, 1 Djuni 1945 dalam rapat Panitia Sembilan, karena saja teringat pada pesan utjapan Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno kepada saja berkali-kali, jakni Lambang Negara haruslah bisa melambangkan ide Pantja-Sila. Mengenai ide Pantja-Sila itu terus terang saja banjak masukan dari pendjelasan Mr. Mohammad Hatta selaku Perdana Menteri RIS ketika saja konsultasi terus-menerus pada waktu itu.

Adanja dua lambang perisai besar di luar dan perisai jang ketjil di tengah, karena menurut pendjelasan Mr. Mohammad Hatta jang terlibat dalam Panitia Sembilan Perumusan Pantja-Sila 1945 ketika pertukaran pikiran dalam Panitia Sembilan pada pertengahan Juni 1945, dari lima sila Pantja-Sila jang terpenting sebagai pertahanan bangsa ini menurut beliau adalah sila pertama Ketoehanan Jang Maha Esa, barulah bangsa ini bisa bertahan madju ke depan untuk membangun generasi-generasi penerus/kader-kader pedjuang bangsa jang bermartabat/berperikemanusiaan jang disimbolkan dengan sila kedua: kemanusiaan jang adil dan beradab.

Setelah itu, membangun persatuan Indonesia sila ketiga, karena hanja dengan bersatulah dan perpaduan antar negara dalam RIS inilah bangsa Indonesia mendjadi kuat, pada langkah berikutnja, baru membangun parlemen Negara RIS jang demokratis dalam permusjawaratan/perwakilan, karena dengan djalan itulah bisa bersama-sama mewudjudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, jakni dari rakjat, untuk rakjat oleh rakjat, karena berbakti kepada bangsa dan Tuhan Jang Masa Esa.

Atas pendjelasan Perdana Menteri RIS itu, kemudian perisai ketjil di tengah saja masukkan simbol sila ke satu berbentuk Nur Tjahja bintang bersudut segilima, patut diketahui arah simbolisasi ide Pantja-Sila itu saja mengikuti gerak arah ketika orang ‘berthawaf’/berlawanan arah djarum djam/’gilirbalik’ kata Bahasa Kalimantan dari simbol sila ke satu ke simbol sila kedua dan seterusnja.

Karena seharusnja seperti itulah sebagai bangsa menelusuri/menampak tilas kembali akar sedjarahnja dan mau ke mana arah Bangsa Indonesia ini dibawa ke depan, agar tidak kehilangan makna semangat dan ‘djatidiri’-nja ketika mendjabarkan nilai-nilai Pantja-Sila jang berkaitan segala bidang kehidupan berbangsanja, seperti berbagai pesan pidato Paduka Jang Mulia di setiap kesempatan. Itulah kemudian saja membuat gambar simbolisasi Pantja-Sila dengan konsep berputar-gerak simbolisasi Pantja-Sila dengan konsep berputar-gerak ‘thawaf’/gilirbalik kata Bahasa Kalimantan sebagai simbolisasi arah prediksi konsep membangun ke depan perdjalanan Bangsa Indonesia jang kita tjintai ini.

Perisai ide Pantja-Sila itu dibawa terbang tinggi oleh Sang Radjawali Garuda Pantja-Sila jang dikalungkan dengan rantai di lehernja dengan tetap mentjengkeram kuat prinsip jang dipegang teguh para pemimpin dalam Negara RIS, namanja “Bhinneka Tunggal Ika” sebagaimana dikehendaki bersama itulah simbol kedaulatan RIS seperti telah diperdjuangkan bersama di Konferensi Medja Bundar (KMB) 1949 dan telah dituangkan dalam Piagam Penjerahan Kedaulatan oleh Ratu Juliana pada 27 Desember 1949 dan diperintahkan dalam Konstitusi RIS itu, jakni Pemerintah untuk menetapkan Lambang Negara RIS.

Pertanjaan lain yang sering ditanjakan kepada saja, bahkan oleh Sekretaris Pribadi saja sendiri, Max Yusuf Alqadrie, setelah keluarnja saja dari pendjara, djuga pertanjaan jang sama oleh Saudara Salam, jakni mengapa ada garis tebal di tengah perisai Pantja-Sila? Apakah sebagai tanda jang membuatnja dari anak bangsa jang berasal Ibukota Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB), Pontianak?

Saja djawab hal ini sebenarnja ingin membanggakan/menjimbolkan letak Negara RIS dilewati garis equator/khatulistiwa jang kebetulan tugunja ada di kota kelahiran saja sendiri, Pontianak, jang didirikan tahun 1928 djauh sebelum negara proklamasi Republik Indonesia merdeka dan Negara RIS terbentuk sampai dengan tahun 1938 disempurnakan oleh opsiter Silaban, sahabat saja, seperti bentuk tugunja sekarang ini, garis itu melewati Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) jang merupakan bagian kesatuan kenegaraan, seperti dinjatakan dalam konstitusi sebelum RIS, 17 Agustus 1945 sampai dengan 26 Desember 1945, agar kelak generasi mengetahui, gambar Lembang Negara RIS ini adalah tjiptaan saja untuk membedakan dengan apa jang dibuat oleh Mr. Mohammad Jamin jang djuga berbentuk perisai hanja gambarannya ada sinar-sinar matahari.

Falsafah ‘thawaf’ mengandung pesan, bahwa ide Pantja-Sila itu bisa didjabarkan bersama dalam membangun negara, karena ber’thawaf’ atau gilir balik menurut Bahasa Kalimantan, artinya membuat kembali membangun/vermogen jang ada tudjuannja pada sasaran jang djelas, jakni masjarakat adil dan makmur jang berdampingan dengan rukun dan damai.

Begitulah menurut Paduka Jang mulia Presiden Soekarno, arah falsafahnja dimaksud pada udjungnja, jakni membangun negara jang bermoral tetapi tetap mendjundjung tinggi nilai-nilai religius masing-masing agama jang ada pada sanubari rakjat bangsa di belahan wilayah negara RIS, serta tetap memiliki karakter asli bangsanja sesuai dengan ‘djatidiri’ bangsa/adanja pembangunan nation charakter building demikian pendjelasan Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno kepada saja.

Saja sedjudjurnya hanya berupaja mengangkat kembali lambang-lambang/simbol-simbol jang ada di peradaban klasik bangsa Indonesia bersama anggota Panitia Lambang Negara itu sebenarnya semangat gorong-royong lewat perentjanaan gambar Lambang Negara RIS sebagaimana ditugaskan kepada saja selaku Menteri Zonderportofolio.

… Pendjelasan lain atas file transkrip pembuatan gambar lambang negara jang saja buat ini sudah pernah saja djelaskan kepada Sekretaris Pribadi saja, Max Jusuf Alqadrie. Dan pendjelasan ini hanya untuk melengkapi apa jang sudah didjelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 jang tidak memuat setjara djelas dan rintji pokok-pokok pikiran tentang lambang negara Radjawali Garuda Pantja-Sila dalam transkrip saja.

Demikianlah djawaban saja atas pertanjaan Saudara Solichin Salam dan semoga mendjadi pendjelasan jang objektif mendjawab surat Saudara. Jikalau kurang djelas, harap Saudara berkundjung ke kediaman saja kembali setiap saat, terimakasih atas hal yang sudah dipertanjakan kepada saja mendjadikan sesuatu jang bermanfaat bagi bangsa jang ditjintai oleh kita.” Djakarta, 15 April 1967. Ttd Hamid. Disalin kembali sesuai aslinya oleh Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II, tanggal 1 Djuni 1971, oleh Max Jusuf Alqadrie (Cucu dan Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II–pada naskah ini disampaikan yang sesuai konteks kearifan-kearifan lokal dari tampilan Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila, pen).


Sebagai wartawan terus terang saya puas dari penjelasan Sultan Hamid atas pertanyaan Solichin Salam terutama menyangkut kearifan-kearifan lokal yang bersifat universal sehingga menjadi sistem imunitas semesta Nusantara. Tidak ada yang disembunyikan. Semuanya terverifikasi dan terkonfirmasi menjawab masalah kekinian. Tak terkecuali isu radikal-terorisme.

Misalnya ide khalifah dalam tata negara Indonesia sehingga dalam berbagai aliran idiologisnya melahirkan kelompok sempalan dengan aksi bom bunuh diri dalam rangka menarik simpati berdirinya daulah islamiyah. Lantas terminologi jihad fii sabilillah dibengkokkan maknanya kepada para remaja dan pemuda miskin pemahaman sejarah Garuda Pancasila,lalu mudah diindoktrinasi bahwa Indonesia kafir atau musyrik. Padahal di jantung Garuda ada kakbah. Padahal dwi warna bertawaf keliling “kakbah” sebagai tanda gilir-balik setelah sila “tauhid” Ketuhan Yang Maha Esa, disusul sila kedua hingga kelima. Pancasila sudah bertawaf keliling kakbah. Lalu mau bentuk daulah islamiyah seperti apa lagi?

Pesan KH As’ad Syamsul Arifin, Purworedjo, Situbondo, Jawa Timur, “Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Indonesia, harus ditaati, harus diamalkan, harus tetap dipertahankan, dan harus dijaga kelestariannya.”

Gus Dur dengan nada canda mengingatkan pula, “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana. Sampeyan jadi antum. Sedulur jadi akhi. Kita pertahankan milik kita. Kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.”

Ingatlah bahwa dunia belajar Islam damai di Indonesia. Dan dengan memahami aspek kearifan lokal berupa simbol-simbol kearifan lokal sejak figur Garuda yang bermetamorfosis menjadi elang rajawali, kemudian kepak sayap maupun bulu-bulunya menyiratkan etos kejuangan proklamasi 17/8/1945 yang heroik. Kepala Garuda menoleh ke kanan yang berorientasi positif, tidak berprasangka negatif serta berbaik sangka atas sesama anak bangsa. Terutama sekali perisai sebagai tameng, alat pelindung. Di mana pada tameng itu menjadi jantung hati bersemayam perisai kecil berwarna hitam dengan nur cahaya ilahi berwujud bintang emas bersudut lima.

Dalam gerak tawaf, kanan ke kiri–berbalikan dengan arah jarum jam–bersimbolkan merah-putih, ada rantai bersambung 17 terdiri dari kotak (laki-laki) dan bulat (perempuan) bahwa sepasang makhluk ciptaan Tuhan ini mesti bersatu, saling melengkapi sehingga melahirkan “tetasan” telur Garuda yang membahana: manusia yang adil dan beradab. Memakmurkan Nusantara. Memakmurkan planet dunia.
Beringin tanda persatuan merupakan tempat bermusyawarahnya pemimpin dengan rakyatnya. Bahwa beringin bukanlah hegemoni Partai Golkar belaka, tetapi dari halaman Istana Yogyakarta. Di sana bersua antara raja dan rakyatnya.

Mengambil iktibar dari beringin itu, jika diproyeksikan pada UU Cipta Lapangan Kerja yang potensial menimbulkan radikalitas, semestinya bisa dikomunikasikan dengan baik. Falsafah beringin astana. Berjumpa dan berkomunikasinya raja dengan rakyatnya. Jika falsafah komunikasi timbal balik antara raja dengan rakyatnya ini terjaga, maka tak ada masalah-masalah besar kebangsaan kita. Raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah.

Kepala Banteng pada sila keempat bukan hanya monopoli PDIP. Banteng adalah ranah minang. Pilihan simbol kerja keras dari Sumatera. Jika kita pahami nilai kearifan lokal Banteng, maka kita tidak hanya “kerja-kerja-kerja” tetapi jujur, jelas dan jernih dalam berprilaku sebagai anak-anak bangsa dalam mengolah Tanah Airnya.

Padi dan kapas adalah simbol kemakmuran. Ke sana kita menuju dengan kemandirian pangan. Kemandirian secara politik, ekonomi dan budaya. Di kearifan lokal dicantumkan dalam lambang negara inilah modal sosial kita menetaskan telur-telur Garuda Pancasila. Sehingga lantang kita berteriak, “Garuda di Dadaku!”
Dengan koor dan mars pula kita penuh semangat menyanyikan, “Garuda Pancasila. Akulah pendukungmu…” *

Berbagi itu indah:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Hatamul Quran

Ubah Bad Mood jadi Good Mood Cerita Generasi Milenial atas Suntuk selama Pandemi