in

Nur Iskandar: Mari Menulis Karena Senang

Oleh: : Khoiriyah*

Pagi ini, Jumat, 6 Maret 2020 kami mengikuti kuliah umum tentang literasi di kampus IAIN Pontianak. Kuliah ini dilaksanakan Rumah Literasi untuk menandai dimulainya program ini untuk semester Genap 2019-2020.

Jika biasanya kuliah umum diharuskan untuk semua mahasiswa IAIN Pontianak maka kuliah umum kali ini hanya dikhususkan pada mahasiswa baru dari tiga program studi saja, ditambah mahasiswa yang akan melaunching buku yang sudah selesai mereka tulis. Tiga prodi yang dilibatkan kali ni adalah prodi IAT (Ilmu Alquran dan Tafsir), BKI (Bimbingan Konseling Islam) dan PI (Psikologi Islam). Mereka dilibatkan dalam program Rumah Literasi. Sedangkan tiga prodi lagi, yaitu KPI, SAA dan MD, sudah merampungkan program ini pada semester Ganjil 2019-2020.

Kuliah umum kali ini terasa sangat istimewa karena dihadiri oleh 11 finalis Duta Literasi FUAD IAIN Pontianak. Finalis ini merupakan hasil dari seleksi peserta program per kelas.

Selain itu, kegiatan ini juga terasa wah karena mendatangkan seorang penulis yang meraih rekor MURI untuk penulis buku biografi tercepat dan terbanyak, Bapak Nur Iskandar. Beliau sengaja diundang untuk menyampaikan motivasi dan memberikan inspirasi kepada anggota program Rumah Literasi.

Pak Nur Iskandar menceritakan pengalamannya menulis buku biografi. Bagi Pak Nur Iskandar, menulis itu berawal dari sebuah hobi. Kegiatan itu dimulai sejak sekolah dasar, dlilanjutkan hingga kuliah. Meskipun kuliah di jurusan pertanian, tetapi, kegiatan menulis tetap dijalaninya. Beliau pernah menjadi pimpinan di tiga media, yaitu sebagai Redaktur Pelaksana di Harian Equator –Group Jawa Post, Pimpinan Redaksi di Borneo Tribune, dan Pimpinan di teraju.id.

Pak Nur Iskandar menulis banyak buku, terutama buku tentang tokoh. Dua buku yang diceritakannya, buku tentang Kapolda Kalbar, Didi Haryono, dan buku tentang Waka Polri Yusuf Manggabarani. Menulis buku ini sangat mengesankan Pak Nur Iskandar, baik proses penggalian data, paska terbit, maupun imbalan yang diperolehnya.

Apa yang diceritakan Pak Nur Iskandar mampu membangkitkan semangat anggota Rumah Lterasi untuk lebih semangat dalam menulis karyanya. Dialog pun berlangsung seiring berjalannya waktu.

“Janganlah kalian menulis karena uang, tapi menulislah karena senang,” pesan Pak Nur Iskandar.

Peserta juga diingatkan filosofi tanaman. “Jika kalian menanam padi maka rumput pun akan ikut tumbuh, tapi jika kalian menanam rumput maka padi tidak akan ikut tumbuh”.(*Khoiriyah, Finalis Duta Literasi, Prodi Manajemen Dakwah, FUAD IAIN Pontianak)

Berbagi itu indah:

Siapa Bilang Menulis Itu Sulit?

“Begini ya ….Rasanya Duduk Nyantai dengan Penulis”