Berita

Adang Durahman – Haji Abdurrahman – Sultan Syarif Abdurrahman

Adang Durahman – Haji Abdurrahman – Sultan Syarif Abdurrahman

Adang pernah saya undang ke Pontianak tahun 1993. Acaranya Dikjur Matindas. Akronim dari Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar. Mereka datang berlima: Selain Adang dari Isola, ada Andreas–Item–Ambar Purwanto (Universitas Kristen Parahyangan–almamater Ir H Said Dja’far teknokrat ulung Kalbar), Asep (Ketawang Gede, Unibraw, Malang), Rommy Fibri (Bulak Sumur, UGM, Yogyakarta) dan seorang cewek cantik berkerudung dari Salemba, Universitas Indonesia. Saat itu saya merupakan Presidium PPMI Wilayah Kalimantan hasil kepengurusan Kongres Kaliurang. Juga Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak plus Wapimred MiUn.

*

Dikjur Matindas gawean besar saat itu. Jarang jarang ada 5 narsum datang dari kampus-kampus bonafide Indonesia. Tak ayal, Dikjur Matindas menusuk kalbu mahasiswa idealis. Mereka ikut jadi peserta.

Lokasi kegiatan di Asrama Haji. Dibuka oleh Wakil Gubernur Drs H Muchalli Taufik.

Salah satu pesertanya adalah mahasiswa Fekon Untan Amshari. Dia putra AURI. Ayahnya Betawi. Penerbang. Ibunya Sambas. Suatu saat ia kecelakaan di Bundaran Untan 1959. Mau rapat pers. Jadi kelingkingnya putus. Korban kecelakaan tunggal akibat hujan. Begitulah perjuangan idealis insan pers kala itu. Berdarah-darah.

*

Adang Durahman suka puisi. Bawa gitar. Datang dengan Kapal Laut KM Lawit. Harga tiket 32 ribu.

Murah? Nggak. Inflasi sesuai anak zaman.