Jika ia menandatangani surat tersebut, maka ia tak akan bisa membawa pulang jenazah istrinya ke rumah. Karena berdasarkan protokol kesehatan iblis covid 19 itu, proses perawatan jenazah dan pemakaman hanya boleh dilakukan oleh petugas khusus, tak boleh dihadiri oleh orang lain.
Walau telah menolak, namun aparat kesehatan tetap berusaha membujuk Bang Shab untuk menandatangani surat itu. Namun Bang Shab tak bergeming. Ia tetap berusaha membawa pulang jenazah istrinya yang malang itu. Ia ingin merawat jenazah istrinya yang syahid itu sebagai wujud rasa cinta untuk yang terakhir kalinya.
Terjadilah adu argumen dan adu mulut. Aparat kesehatan kemudian meminta bantuan dari aparat keamanan. Petugas keamanan pun datang ke rumah sakit.
Karena khawatir mengalami hal-hal yang tak dinginkan, Bang Shab kemudian meminta bantuan keluarga besarnya. Pihak keluarga pun datang memberikan dukungan.
Singkat cerita, jenazah istri sahabat saya yang malang itu, akhirnya berhasil dibawa pulang ke rumah. Jenazah istrinya yang syahid ini kemudian ia rawat sesuai dengan ajaran Islam, lalu dikebumikan dengan normal.
**
Mendidih darah saya mendengar cerita sahabat saya ini. Saya membayangkan jika hal itu terjadi pada keluarga saya. Ntah istri saya, ntah saudari kandung saya.
Saya mencoba menggambarkan bagaimana perasaan istri Bang Shab yang mengalami kesakitan menjelang detik-detik kelahiran sang jabang bayi.
