Hal itu telah menjadi bancakan dalam perjalanan hidup Pak darto sejak dia menamatkan pendidikan di Jawa, bertugas mengajar di Sambas, lalu masuk ke Kota Pontianak, sampai akhirnya pensiun dalam kedinasan di Kanwil Pendidikan Kalbar. Masa pensiun diisinya dengan tetap mengajar sebagai dosen tamu di IKIP Pontianak, IAIN Pontianak maupun Universitas Tanjungpura. ***
Pak Darto hidup sendiri. Dia pilih membujang. Tentang hal ini tak banyak orang yang tahu soal sisi lain hidupnya. Oleh karena itu dia salah tingkah kalau ada orang sok kenal sok akrab dan bertanya, “Bagaimana anak dan ibu, sehat pak?” Namun tokoh pendidikan yang setaraf usia dengannya mengetahui bahwa Pak Darto pernah patah hati. Dimana sosok wanita yang dia cinta bertepuk sebelah tangan. Nah, Pak Darto memeluk cinta sampai akhir hayatnya. Ini sisi lain betapa dia teguh dan keras menunjukkan sesuatu yang dia yakini hakikat dan makrifatnya. ***
