Sebagai tokoh pendidikan yang dikenal luas di Kalbar, Pak Darto “laku” di mana-mana. Apalagi soal pendidikan, sejarah, dan kebudayaan. Ia jadi rujukan. Tak heran jika peneliti dalam dan luar negeri selalu mampir ke kediamannya untuk tukar pikiran. Sebut di antaranya Jamie Davidson dan Gerry Van Klinken. Di penghujung usianya yang senja, Pak Darto masih berusaha menterjemahkan sebuah buku penting karya Bohm. Seorang ilmuan Belanda yang cukup lama menjadi Sekretaris Sultan Hamid. Di dalam buku itu banyak informasi penting tentang Pontianak pada khususnya, dan Kalbar pada umumnya. Saya juga menanti-nanti karya penterjemahan Pak Darto ini, namun sampai napas terakhirnya, Rabu, 25/1/17 pagi saya tak dapat kabar apakah project penterjemahan buku yang lumayan tebal itu telah selesai. ***
Sebagai pakar, Pak Darto akrab dengan forum seminar maupun diskusi terfokus. Ia kerapkali menjadi narasumber atau pembahas. Di forum-forum seperti itu wejangannya mengalir deras dengan data angka maupun fakta nyata. Argumentasinya nyaris tak terbantahkan. Mungkin Pak Darto adalah “spesies langka” hasil didikan zaman Belanda. Ingatannya tajam. Bacaannya luas. Punya prinsip. Benar, benar. Salah, salah. Melintang patah, membujur lalu. Kepala Dinas Pendidikan Kalbar, Drs Alexius Akim, MM menyebut Pak Darto sebagai “kamus berjalan”.
