Berita

“Kamus Berjalan Itu Telah ‘Jalan’ Buat Selama-lamanya”

“Kamus Berjalan Itu Telah ‘Jalan’ Buat Selama-lamanya”

Pak Darto orang yang sederhana. Rumahnya seperti bangunan sekolah inpres. Terdiri dari pintu depan rumah yang miring, jendela berbahan kaca lebar dan hanya dilapisi gorden kain tanpa renda. Atap seng rumah itu sudah cokelat karena karat. Namun halaman rumahnya hijau dengan rumput gajah. Tampak terawat dan bersih. Jika kita berkunjung ke rumahnya, terdampar koran dan buku di atas meja atau di rak lemari ruang tamu. Di ruang tamu ada dua tempayan antik. Dua tempayan antik itu sudah diwasiatkan menjadi koleksi Balai Kajian Sejarah. Adapun buku-buku sebagian diwasiatkannya kepada Perpustakaan, sebagian jatuh kepada guru maupun stafnya, Jumadi, M.Pd. Pak Darto menulis sejumlah poin wasiat tertera Januari 2017.

PPLJika melewati Jalan Selayar yang menghubungkan bundaran Kota Baru dengan masjid Al Amin dan melihat kediaman Pak Darto saya menghela napas panjang. Bahwa di dalam rumah sederhana itu ada makhluk istimewa yang jasa-jasanya amat sangat besar bagi Kalbar. Dan memang dari tempat sederhana kerap bercahaya sesuatu yang istimewa melebihi cahaya istana nan gemerlap. ***