Perlu diingat dengan jernih bahwa situasi Kalbar di bawah Kesultanan Qadriah berbeda dengan rakyat di Jawa di bawah Sultan Jogja yang merasakan penjajahan Belanda. Di Pontianak, Belanda hanya minta tanah untuk kantor kepada Sultan, tetapi rakyat tidak merasa dijajah, melainkan tunduk pada daulat Sultan Qadriah. Sehingga tidak ada perlawanan frontal terhadap Belanda. Jadi aneh kalau Sultan Hamid II yang berjuang melalui BFO dituding kebelanda-belandaan.
Bahkan dituding pro Belanda, sementara sampai titik darah terakhir Sultan Hamid II Indonesia tulen.
Hanafi Zamzam memberikan sebuah foto dengan pakaian kesultanan. Zamzam menulis selengkapnya berikut ini:
Adinda. Ini foto kebanggaan saya. Dan saya pernah diprotes orang karena kenapa berani-berani ‘pake’ songkok model Sultan Qadriah?! Komentar pedas itu didengar oleh almarhum Pangeran Jaya Syarif Max Jusuf Alqadrie. Dia langsung bilang ke orang yang protes, “Hanafi ZamZam nih berhak pake songkok itu! Saya yang bertanggungjawab, karena saya tahu dia anak angkat Abuya Sultan Hamid!” Dan kain kalengkang hitam itu punya Bang Max yang dikasih ke saya.
Catatan: Max Jusuf Alkadrie adalah sekretaris pribadi Sultan Hamid sampai akhir hayatnya Sultan Hamid tahun 1978.
