Saya mengenal dr Buchary dengan baik sejak beliau menjadi direktur di RSUD dr Soedarso. Maklum, kami anak Sungai Raya Dalam dimana RSUDS bercokol. Kemudian di saat saya mengelola tabloid Mimbar Untan sekaligus reporter di Radio Volare, saya kerap kali menjadikan dr Bong sebagai narasumber terutama bidang kesehatan dan dakwah. Atau singkat cerita, bidang kesehatan yang berhubungan dengan ajaran Islam. dr Bong punya “sense of religi”. Tak heran beliau menjadi Ketua Orwil ICMI Kalbar, dewan penasehat Forum Umat Islam Kalbar, dan juga pengurus Yayasan Mujahidin.
Buchary menjadi dokter karena pilihan dan cita-citanya. Cita-cita ini terlecut ketika kakek yang sangat dia sayangi jatuh sakit dan amat sulit mendapatkan dokter. Sang kakek menghembuskan napas terakhir karena dokter telat tiba di rumah kawasan Wak Serang, depan Pelabuhan Pontianak. Maka, akibat kelangkaan tenaga dokter itulah dia menempa diri menjadi dokter, dan cita-cita itu tercapai. Ia bahkan menjadi direktur di RSUD dr Soedarso.
Memiliki posisi strategis dan populis, Buchary dilamar Golkar untuk maju menjadi calon walikota. Ia berhasil menang dengan mengalahkan calon lain, yakni RA Siregar, Agus Salim dan Said Dja’far. Di periode pertama dia berduet dengan Salman Djiban dan periode kedua bersama Sutarmidji.
