Di dalam jeruji besi Buchary tidak seperti napi lainnya. Dia dapat tempat terhormat sebagai dokter. Dia merawat pasien bahkan sipir penjara. Dia dieluk-elukan sebagai kepala klinik kesehatan. Apalagi di dalam rumah tahanan yang sama Buchary ternyata tidak sendiri. Dia juga bersama dengan sejumah pejabat publik lainnya, bahkan kepala daerah lainnya, termasuk paramedis, sehingga dia punya staf di klinik. Di sana pula Buchary menerima banyak tamu dan kolega yang berempati dengannya.
Dengan demikian dunia memang tak selebar daun kelor, atau tak bisa dibatasi dengan jeruji besi. Hubungan sosial tetap terjalin dengan mesra bersama Buchary.
Keluar dari tahanan nama baik Buchary tetap kemilau. Dia berkhidmat di RSP Untan selain “buka praktik” sebagai dokter ahli. Namun di RSP pula dia menghembuskan napas terakhirnya.
Dokter pemula putra daerah Kalbar ini sejatinya memang berjiwa kasih dan lembut. Bercita-cita menjadi dokter dan wafat dalam khidmat sebagai dokter di RSP Untan. Dia turut memimpin RSP Untan karena ilmu dan keahliannya. Dan melalui pendidikan, dokter putra daerah Kalbar yang dahulu langka, sekarang sudah periodik mewisuda dokter-dokter muda. Maka di sana terpancar rasa bahagia dari Pendekar Selembe.
