Masya Allah. Inilah komet dakwah yang bikin air mata pecah. Meteor Masajidallah. Tak sanggup saya menuliskan betapa saat saya ke pedalaman Sambas. Jauh dari Danau Sebedang. Melongok Ponpes di sana tergeletak dengan susunan rapi berkarung-karung beras. “Alhamdulillah beras Munzalan sampai ke sini. Pasukan Amal Sholeh alias Paskas yang memikulnya.” Demikian Pimpinan Ponpes dengan gamis dan sorban putih berwibawa. Gerakan Infak Beras (GIB) sampai ke ujung gerung. Hulu gunung.
Di momentum jumpa di kediaman Ayahman itulah kesempatan mata saya lempar pandang ke segala penjuru. Sebab kami memang kenal dekat bak sahabat, tapi baru kali ini saya mendapat undangan emas, masuk ke ruang utama kediaman Sang Pujaan Dakwah Muda Nusantara.
Sofanya sederhana. Satu set saja. Cukup untuk.menamlung 6 tamu.
Lantai ubin dengan karpet biasa. Sempit tentu saja. Tanpa banyak koreografer seni. Hanya satu dua kalimah penyemangat terutama kiblat dan shahadat. Tak seperti tokoh kyai kebanyakan.
Udara dingin keluar dari bilik. Saya tahu ini kipas AC. Wajar di Pontianak hawa panas kerap melanda.
“Saya tak siapkan apa-apa lagi kecuali kafan,” urainya lembut dan tatapan mata sejuk. Janggutnya yang tipis beruntai bak lebah bergantung. Bikin manis.
