Saya terus terang. Ini pasti ada misi khusus. Apa gerangan?
Ini rahasianya: ‘Saye dakwah dari mesjid ke mesjid. Jamaahnya orang yang memang mau takwa, ibadah dan taubat. Tapi To’ Yes dakwah di ladang terbuka. Heterogen. Bahasa saya To’ Yes dakwah di zona ketiga.”
Zona 1 Masajidallah. Zona 2 para da’i bilateral sosial. Zona 3 wilayah plural.
Saat itu tak hanya insan pers yang merudu Ayahman. Tapi juga Konsul Malaysia di Kota Pontianak. Encik Azizul Zekri. “Ustadz Lukman nih idola saya.” Klik. Potret bersama….
Lebih terkini saat saya mencolek Ayahman di pukul 03.00. Dinihari.
Saya sapa apakah bisa saya bawa Bu Dwi Hadiningdyah ke Munzalan Tower pada 19 Januari di waktu Ashar?
Lama tak ada jawaban. Tapi centang dua. Biru. Tanda pesan WA telah dibaca.
Teks pesan yang sama saya teruskan ke To’ Ya. Abang kandung saya. Sohib Ayahman membina Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin. Keduanya saya tahu pelaksana erat tahajjud. So? Jam 03.00 biasa sudah tirakat. Ingin dialog dengan Tuhan saat senyap. Saat gelap.
“Ayahman sedang di Pidie. Aceh.” To’ Ya balas WA saya.
Oooh begitu, pikir saya. Ya sudah. Belum rizkinya. Schedule jalan terus dengan Plan B bergerilya. Plan alternatif.
