teraju.id, Jakarta – Gelombang digitalisasi media ditandai dengan beberapa hal. Pertama, jumlah pengguna internet yang terus meroket tajam, termasuk di Indonesia. Kedua, runtuhnya sejumlah media cetak, termasuk media-media legendaris dunia.
“Menurut data dari APJII (Asosiasi Penyelenggrara Jasa Internet Indonesia), sejak 2018, pengguna internet Indonesia sudah mencapai 171 juta orang dari sekitar 260 juta populasi penduduk. Artinya sudah 65 persen penduduk Indonesia tersambung dengan internet,” kata A. Sapto Anggoro, CEO Tirto.ID, saat membawakan orasi ilmiah dalam Wisuda Sekolah Tinggi ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) di Dyandra Convention Center, Sabtu (30/11/2019) pagi sebagaimana dikutip dari AMSI.or.id Senin, 2 Desember 2019.
Dari jumlah ini, lanjut Sapto di AMSI.or.id, pengguna dari kalangan anak muda merupakan porsi yang terbesar. Karena mereka merupakan generasi digital native yang sejak lahir sudah mengenal internet dan handphone.
Dalam orasi berjudul ‘Cerdas Berkomunikasi di Era Digital’, alumni Stikosa AWS ini mengakui, generasi seperti dirinya dan para orang tua wisudawan, bagian dari generasi immigrant technology yang tak pantas disebut milenial, malah diolok sebagai generasi kolonial.
“Para generasi kolonial ini, masih ditemukan membaca koran cetak, sementara media cetak satu-demi satu pamit kepada pembacanya. Dan tutupnya media cetak tidak hanya terjadi di Indonesia tapi global,” jelasnya.
