Nabi SAW. memberi kebebasan dan keleluasaan, mengajarkan: “bacalah apa yang mudah bagimu”, sungguh membuat orang yang baru belajar Islam ini, dia senang dan merasa dihargai. Dia tidak diberatkan dan tidak tertekan.
Kesimpulannya, hadis di atas pemahamannya bersifat temporal dan lokal, tidak berlaku umum, sebab ada hadis lainnya, Nabi SAW. bersabda:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ
Tidak (sah) shalat bagi yang tidak membaca surat al-Fatihah. (HR. Bukhari dari ‘Ubbadah bin ash-Shamit).
Lalu bagaimana memahami hadis yang membolehkan tidak shalat jumat bagi mereka sudah shalat idul Adha?
Sahabat sekaligus ipar Nabi SAW. bernama Mu’awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam,
أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ.
Apakah engkau pernah menyaksikan Bersama Rasulullah SAW. ketika bertepatan dengan dua hari raya ‘ied (hari Idul Fitri atau Idul Adha bertepatan hari Jum’at) dalam satu hari?” Zaid menjawab: “Iya”. Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang Beliau lakukan pada saat itu?” Jawab Zaid: “Beliau melaksanakan shalat ‘Id dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”. Nabi SAW. bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan.” (HR. Abu Daud).
