“Saya bertanam cabe di dalam polybag di pekarangan rumah. Lumayan untuk mengurangi belanja di warung,” ungkapnya seraya menekankan bahwa bekerja di sektor swasta harus aktif dan kreatif agar hidup berkecukupan.
Ace menceritakan bahwa dia juga memelihara ikan. Dari sini dia melatih anak-anaknya untuk berdikari. Ia juga mendatangkan kuda dari Sumba. “Kata Nabi, ajarilah anakmu menunggang dan memanah.” Sejak remaja Ace rajin sembahyang lima waktu. Kendati demikian dia tidak mengabaikan jiwa seni di dalam dirinya. Ia pandai memetik gitar dan kerap tampil di atas pentas untuk acara kesenian. Ace juga pintar melukis dan beberapa kali menjadi juara di level SMA se-Kota Pontianak. Ia beberapa kali mengharumkan nama SMT Pertanian Flora Agung. Dan salah satu lukisan favoritnya adalah kuda.
Sebagai seorang ayah dengan usia kepala empat, Ace sebenarnya masih muda. Ia bekerja keras untuk menghidupi lima anaknya. Si sulung bahkan menimba ilmu di Kampus Bina Nusantara. “Anakku yang tua semasa SMA mondok di pesantren Kota Malang, Jawa Timur. Ketika lulus, dia meminta kuliah di Binus jurusan Entrepreneurship. Biayanya alamak….kalah-kalah kuliah di kedokteran,” ungkap Ace.
Entah berapa biaya persisnya, Ace tidak menguraikan secara detil. Namun dia menambahkan bahwa rizki selalu saja ada jika kita terus berusaha. Namun pendidikan buat anak-anak mesti menjadi prioritas.
