Hal yang sama dilakukan oleh alumni SMT Pertanian angkatan ketiga Syafri Wagiyanto yang akrab disapa Yanto. Putra kelahiran Sintang ini sejak tamat sekolah tahun 1993 lebih memilih bekerja sebagai pedagang buah. Namun pekerjaan itu tidak lama dilakoninya. Ia justru jatuh cinta dengan bisnis angkutan. Mulai dari angkutan tandan buah sawit, karet, sampai bahan bakar minyak. Dari bisnis inilah Yanto menghidupi tiga orang anaknya.
Si sulung pada tahun 2017 ini akan menamatkan pendidikan SMP-nya di MTs Kota Sintang. Cita-citanya ke SMA Taruna Bumi Khatulistiwa yang sejak lahir dinisbatkan sebagai sekolah favorit karena disiplin dan semi militer serta berasrama. Untuk bisa mendaftar di sini mesti merogoh kocek sedikitnya Rp 20 juta rupiah untuk masa setahun pertama bersekolah.
Sebagai ayah yang peduli dengan pendidikan serta cita-cita anak yang ingin menjadi polisi, Yanto mesti putar otak, karena biaya 20 juta itu tidaklah kecil buat kehidupan rumah-tangganya yang pas-pasan. Oleh karena itu dia “melego” satu kendaraan roda empat miliknya yang saban hari digunakan berbisnis angkutan. Namun kepada putra sulungnya dia berpesan, “Sekolah yang benar ya Nak. Jangan sia-siakan pengorbanan ayah.”
