Ketika bangun, ia merasa tenggorokannya kering. Tidak ada ludah yang bisa ditelan. Dengan mata tertutup dia merintih. Dia terbaring. Bukan karena istirahat, tapi karena dia terlalu lemah untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Terbaring entah di mana, dia tidak tahu. Dia pun berpikir, “Begini ya rasanya mati.” Dia terbaring seperti itu dan tidak bergerak dalam beberapa waktu lamanya. Bisa satu jam, bisa juga satu hari.
Tiba-tiba angin mulai bertiup dan memenuhi mulutnya dengan pasir. Rasa pasirnya sangat pekat. Mirip dengan makanan yang gosong. Tapi justru bukan rasanya yang membuat dia terkejut, melainkan teksturnya. Sangat kental. Walaupun hampir tidak ada cairan di mulutnya, pasirnya terasa seperti bubur. Dia pun menutup mulutnya. Ketika butiran-butiran pasir mengenai gigi, bunyinya seperti papan tulis digaruk kuku. Pasir itu pun masuk ke hidungnya.
