Dengan segera dia meraih dua tas miliknya. Dengan begitu bagasinya sudah lengkap. Namun ia masih melihat pada conveyor yang berjalan pelan seperti ada yang kurang. Satu bagasi masih berkeliling di conveyor sendirian. Ia sadar itu adalah kotak kayu yang dititipkan padanya. Lalu ia pun teringat biksu. Dia angkat kotaknya dengan meregangkan ototnya. Untuk kotak dengan ukuran antara besar dan kecil, kotak itu ternyata ringan. Isinya bisa jadi apapun. Kemudian dengan hati-hati dia meletakkannya di lantai, tepat di depan kakinya. Ia pun jongkok dengan susah payah. Salah satu keahlian yang didapatkannya ketika mengembara di Asia Tenggara. Jongkok. Meskipun bingung apa yang harus dilakukan, dan di mana harus ia temukan biksu itu, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk melihat kotak itu. Melihat isinya. Setelah mengambil nafas, dengan sabar dan tidak terburu-buru dan masih sesekali memutar kepalanya seperti mau memastikan tidak ada yang mengamati, ia pun membukanya. Kotak itu hanya dikunci oleh sebuah ganjal dari kayu juga. Ketika ganjal itu dibuka, wangi kayu tersebar, terhirup hidungnya. Lalu wangi yang lain muncul. Seperti wangi gurun. Wangi pasir. Kotak itu kosong dan gelap. Tampak lebih dalam dari yang seharusnya. Dengan ragu ia masukkan tangannya ke kotak. Jarinya menyentuh kayu yang dingin sebelum kemudian menemukan sesuatu yang lembut. Pasir. Ia menemukan pasir. Antara terkejut dan penasaran, ia menggali, jari-jarinya menyapu sudut-sudut kotak. Ketika ia beranikan mengangkatnya, ia menemukan bulir-bulir pasir di sela-sela kuku jari. Gelombang angin seperti yang ia rasakan di gurun menerpa wajahnya. Ia tidak peduli lagi dari mana angin seperti itu muncul di bandara. Rasanya tiba-tiba ia begitu dekat dengan kotak itu. Ia ingin memilikinya. Kecemasan di awal dengan segera berubah menjadi keyakinan. Ia mendekap erat kotak itu dan berdiri. Dengan dua tas di punggung ia berjalan ke pintu keluar. Ia sempat menengok untuk mencari sekali lagi biksu itu. Namun pikirannya sudah memiliki kesimpulan sendiri. Seperti takdir. Sambil berjalan, ia mulai menyusun berbagai cerita yang akan disampaikan pada ayah ibunya. Cerita yang dimulai dari kotak itu.
Sebab Engkau Pasir dan Engkau Akan Kembali Menjadi Pasir
