Cerpen

Perempuan Melayu Terakhir

Perempuan Melayu Terakhir

Bagi Marwah, ini adalah kesempatan untuk tidak menyusahkan kerabatnya lagi, jalan keluar menuju kemandirian sekaligus membuka kesempatan silaturahmi dengan teman di luar kampusnya. Lokasi kos terletak di daerah sepakat Untan maka secara otomatis para penghuni kos tersebut adalah mahasiswi Untan. Marwah juga bisa memangkas jarak ke kampusnya tanpa perlu melintasi dua jembatan Sungai Kapuas.

Marwah tidak serupa keumuman perempuan yang feminim. Ia lebih terlihat acuh dan slengekan. Ada banyak pekerjaan yang menjadi domain laki-laki yang bisa dilakoninya dengan baik ketika menjadi penjaga Kos seperti membenarkan lampu, membetulkan saluran air, serta mengusir laki-laki yang ngapel ke salah satu penghuni hingga larut malam.

Meski demikian, Marwah punya aura keibuan kuat yang terendus oleh seorang bocah lelaki. Entah asalnya darimana, anak yang berusia 2 tahun tersebut suka berdiam diri di depan pintu kos. Awalnya ketika hendak berangkat kuliah dan melihat anak itu, Marwah spontan membelai kepalanya dan menyapa, “Assalamu’alaikum…”

Ternyata sentuhan tersebut membekas begitu dalam pada diri anak itu. Hampir setiap hari, di jam-jam tertentu ketika Marwah akan berangkat atau pulang kuliah, ia sudah berada di depan pintu menanti Marwah, sebab anak itu enggan berdekatan dengan mahasiswi lainnya.