Untuk ke kampus Marwah menggunakan angkot. Dalam aktivitas kampusnya, Marwah membatasi diri hanya aktif di perkuliahan tanpa sempat ikut LDK, HMJ dan organisasi eksternal Kampus. Nyaris semua waktunya habis tersita untuk pekerjaan rumah tangga kerabatnya. Kecuali untuk urusan kepanitiaan dalam beberapa agenda, marwah kadang melibatkan diri. Itupun dalam rangka menunaikan kewajibannya sebagai mahasiswa baru.
Dalam sebuah agenda bertema pendidikan, dimana Marwah sebagai panitia inilah untuk pertama kali saya bersua Marwah. Waktu itu saya masih aktif sebagai Instruktur pembantu di sebuah lembaga kursus bahasa. Terkadang saya diminta menjadi pembicara pelapis jika instruktur utama yang diundang berhalangan hadir dan waktu itu saya hadir dalam kapasitas sebagai pembicara pengganti.
Momen pertama yang membuat Marwah menjadi pusat perhatian adalah aksinya di penghujung agenda diskusi, beberapa jenak setelah saya menyelesaikan sharing dan hendak ditutup oleh MC. Marwah memberi isyarat untuk izin berbicara.
Sekejap seisi ruangan senyap, mengedarkan pandang kepadanya dan Marwah mulai membuka pembicaraan dengan ketukan retorika seadanya, berusaha menggugah setiap peserta untuk menyisihkan uang saku mereka agar disumbangkan kepada seorang temannya yang nyaris berhenti kuliah karena kebun jeruk orang tuanya di Sambas gagal panen. Akhirnya hasil uang tersebut terkumpul banyak dan dihibahkan kepada temannya itu.
