Cerpen

Perempuan Melayu Terakhir

Perempuan Melayu Terakhir

“Islahuddin tidak pernah kesini lagi, dulu setelah Marwah wafat, anak itu hampir tiap hari datang di jam-jam tertentu menunggui marwah, tapi setelah menanti selama hampir 2 bulan, anak itu tidak pernah nampak lagi”

Mendengar jawaban seorang warga disekitar kos, dada saya sesak, pilu membayangkan sosok Marwah dan keteladanan yang diwariskannya. Sejak saat itu saya memutuskan untuk menggunakan nama Islahuddin sebagai nama laqab.