Cerpen

Perempuan Melayu Terakhir

Perempuan Melayu Terakhir

Karena tidak tahu siapa namanya, Marwah selalu memanggilnya “Islahuddin”, artinya sosok yang selalu memberikan perbaikan jika ada yang melenceng dari pengamalan Dien.

Bagi marwah, nama adalah do’a seperti defenisi ulama’ “Al Ismu Yadullu ‘alal musamma” yang artinya nama menyiratkan, mengandung deskripsi terhadap apa yang dinamainya. Ia tidak setuju dengan pepatah “apalah arti sebuah nama”, pemahamannya menuntun untuk menempatkan nama sebagai do’a abadi kepada siapa ia disematkan. Dan pada akhirnya marwah sering mengajak Islahuddin masuk ke kamarnya untuk bermain.

Marwah merawat Islahuddin bagai adik sendiri. Memandikan, mengeramasi, memotongi kuku, dan menyuapinya. Bahkan marwah kerap menjahitkan pakaian. Tak heran kalau teman-teman penghuni kos menggoda Marwah bahwa bocah itu anaknya.

Entah dimana anak itu tinggal, Marwah mendengar kabar bahwa anak itu lahir dari seorang wanita korban perkosaan. Karena setiap hari setelah Marwah urus dengan telaten, anak itu pergi begitu saja tanpa permisi.

Suatu waktu Marwah pernah menanyakan rumah Sang Anak kepada warga sekitar. “itu dibelakang, Mbak, yang ibunya sinting, suka ketawa-ketawa sendiri,” kata salah seorang warga.

“Hah Ibunya Gila, Ya?”

“Kayaknya sih, soalnya suka cengengesan sendirian”