GIB, ketika sukses di Kalbar dan mulai masuk ke provinsi lain, KH Lukmanul Hakim segera ambil tindakan tegas. Bahwa GIB adalah untuk masyarakat lokal masing-masing. Per kota, per provinsi. Tidak silang sana sini. Rapih. Dengan demikian semakin menaruh simpati umat Islam Indonesia, bahkan dunia. Kini GIB masuk ke berbagai negara. Ada di China, Korea, Australia, bahkan GIB menjadi GIG: Gerakan Infak Gandum untuk makanan pokok Palestina.
Di Jogjakarta GIB punya kisah lain yang seru. Rupanya di kawasan Gunung Kidul antara satu Ponpes dengan Ponpes lainnya rebutan donatur. Hal ini demi kebutuhan sandang dan pangan pondok. Ternyata GIB menjadi alat pemersatunya. Subhanallah. Walhamdulillah.
Bagaimana kisahnya? Begini: Gerakan Infak Beras yang masuk Jateng digerakkan oleh Pasukan Amal Sholeh disingkat Paskas. Paskas membentuk grup-grup WhatsApp. Kerap kali kumpul diskusi di antara distribusi beras ke ponpes-ponpes negeri Nyi Roro Kidul. Mau tidak mau para pegiat Ponpes jadi kerap ketemuan dan uluk salam. Saling senyum dan sapa. Lalu akrab tanpa sekat. Kenapa? Seluruh kebutuhan pondok pesantren se-Jateng, termasuk Jogja, aman-amin. Aman dan nyaman. Betapa tidak? Ikrar GIB itu beras pulen. Beras premium. Terbaik! Dan semua itu dinikmati santri menyeluruh tanpa pretensi.
