Saat bersama ke KUA Kecamatan Kakap dalam rangka Akta Ikrar Wakaf, pria kelahiran tahun 1984 ini menarik tabletnya. Membuka tuas laksana pena, lalu menggoreskan konsepsi keumatan dan kesejagatan yang dijamin aman dan amin oleh Allah SWT.
“Saat ini orang pop dan terkenal diukur dari seberapa banyak followernya. Seberapa banyak subscribernya. Salah!” Demikian Yayi. Yang benar adalah setiap orang yang paling banyak membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Titik. Tidak jaminan folower banyak dan subscriber banyak, tapi bermanfaat bagi masyarakat. Mesti manfaat ukurannya. Begitu Yayi kasih koreksi ke saya sebagai insan pers yang pada umumnya kejar rating. Kejar folower dan subscriber. Ngeri saya ketika diuraikan kembali soal ujub, sombong dan takabur. Di mana Iblis pun terusir dari surga karena sombong. Laa haula wala quwwata illa billah….
Saya berguru. Mencoba mengingat semua ilmu. Selalu terharu mendengarkannya. Sosok pria muda dan cekatan dalam membangun jaringan tanpa mengelu-elukan nama Munzalan. Termasuk GIB. Agar tidak lupa, saya harus buat catatan perjalanan ini. Catatan adalah obat pengikat lupa. Obat mujarab suatu saat kelak dibaca kembali jadi jembatan pengingat. Di sini juga saya ambil hikmat deklarasi Gerakan Indonesia Membaca bersama Yayi, 1/1/21–hari Jumat waktu itu di Munzalan Tower bersama pegiat literasi Rizal Hamka.
