Saat saya bertandang di depan pondok ada tukang yang menagih pekerjaan pembangunan. Rp 1 juta dari 12 juta pekerjaan yang telah dibayar 11 juta. “Tinggal sedikit. Maksudnya setelah selesai semua dilunasi 1 juta lagi, tetapi tukang merasa lebih butuh daripada pondok. Masya Allah….” Kyai geleng-geleng kepala.
Tantangan pengembangan Ponpes seperti dialami KH Wahyudi tidak kecil. Tidak sedikit. Banyak dialami ponpes lain se-Nusantara. Dan di sini betapa GIB punya peran sentral, di mana perut setiap pegiat pondok, baik kyai, terutama para santri aman dan nyaman. Maka pimpinan Ponpes bisa menyelesaikan PR-PR lain seperti urusan pertukangan gedung dan lain-lain persoalan. Di sana Ponpes bisa tumbuh dan berkembang. Masya Allah saya bergetar. Mata berkaca-kaca membaca karung beras GIB–Munzalan Mubarakan–sebuah mesjid kecil di gang sempit Imaduddin-Sungai Raya Dalam sampai ke Punggur. Sampai ke Danau Sebedang-Sambas. Bahkan sampai ke 3000 pondok pesantren seluruh Indonesia. Sampai menyentuh 270.000 santri. Data terkini, Januari 2021.
