Community

Cegah Terorisme Melalui Komunitas dan Organisasi Anak Muda

Cegah Terorisme Melalui Komunitas dan Organisasi Anak Muda
Pengajian dengan pembinaan yang benar dirasakan remaja Kota Pontianak dan sekitarnya, baik di sekolah, pondok pesantren, masjid maupun kampus.

Jejak terbesar dalam rekam sejarah Kalimantan Barat tentu tidak bisa dilepaskan dari peristiwa tahun 1996 sampai tahun 1997 di Sanggauledo, Sambas. Aksi anti-Madura ini berawal dari sebuah perkelahian antarpemuda kedua suku pada sebuah pertunjukan dangdut di Ledo, 20 kilometer dari Sanggauledo. Sekelompok pemuda Madura menggoda pemudi-pemudi. Bakrie, anak pasangan Dayak dan Madura, tersinggung dan mencelurit Yokundus dan Takim, pemuda Dayak, sehingga masuk rumah sakit.

Tahun 1999 juga menorehkan rekam jejak yang tidak kalah miris, pertikaian antara Madura, Melayu, yang kemudian juga melibatkan Dayak, pecah di Sambas. Sebanyak 265 orang telah tewas (252 Madura, 12 Melayu, seorang Dayak), 38 luka berat dan sembilan luka ringan. Lebih dari 2.330 rumah hangus terbakar dan 164 dirusak massa, empat mobil dibakar dan enam dirusak, sembilan sepeda motor dibakar dan satu dirusak.

Beberapa rekam jejak persitiwa yang sudah pernah terjadi, merupakan satu contoh yang bisa menjadi potensi terorisme, terlebih lagi terorisme berakar dari radikalisme. Berangkat dari konflik-konflik tersebut ada bibit ketidakpuasan, kemiskinan, ketidakadilan hukum, bahkan diskriminasi dan masih kurangnya rasa toleransi terhadap sesama.