Pernyataan ini didukung oleh Robby Saputra seorang anggota komunitas Riil Hijrah dan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Pontianak. Ia mengatakan di komunitas ini diajarkan untuk mencintai apapun dengan cara Islam. Menggunakan hati. Tidak sekalipun Islam mengajarkan terorisme sebagai bentuk cinta yang katanya digadang-gadang sebagai jihad tersebut.
“Kajian ini mengajarkan saya untuk mencintai sesama bukan untuk saling membenci,” kata Robby.
Selain melalui komunitas, perkumpulan positif anak muda-anak muda diwadahi oleh organisasi di tempat mereka menimba ilmu. Sebut saja Rohis untuk organisasi di bangku SMA dan FKMI (Forum Keluarga Mahasiswa Islam) yang pasti ada di setiap Fakultas di Universitas Tanjungpura. Sebut saja FKMI Nuruddin yang bermarkas di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura yang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.
Belakangan ini banyak sekali isu-isu yang menyebutkan bahwa Lembaga Dakwah Kampus merupakan perkumpulan yang mudah disusupi pemahaman baru terorisme dan radikalisme. Hal ini membuat gerah para mahasiswa-mahasiswi yang ikut dalam organisasi tersebut. Mereka mengatakan bahwa Forum Keagamaan di Kampus mempelajari hal-hal yang jauh berbanding terbalik dengan terorisme dan radikalisme. Dengan mengikuti organisasi-organisasi tersebut banyak manfaat yang mereka dapatkan, baik dari bidang keagamaan maupun interaksi sesama.
