Pada tahun 1997, sekira bulan Agustus atau September, Yudi ke rumah jeruk purut, Rumah Max Yusuf Alkadrie yang juga merupakan kantor Yayasan Sultan Hamid II pertama kali. Yudi bertandang pukul 10 pagi. Seperti biasa, dengan logat Pontianak, Max menyapa Yudi, “Aaaa ngape kau kesini nii, ape cerite..?” Yudi datang ke Max bermaksud untuk meminta bantuan pemberian nama grup band tersebut karena memang belum ada yang cocok.
“Memangnye kau tadi kasi name ape..?” Disebutkanlah nama-nama yang ditolak itu. Max menanyakan uraian karakteristik nama grup band yang diminta seperti apa, Yudi menjelaskan bahwa penting untuk memasukkan muatan ciri khas atau identik dengan Kalimantan Barat yang memang merupakan wilayah asal personil grup band ini. Kemudian setelah beberapa lama diskusi santai sambil menikmati hidangan kopi dan kue, Max masuk ke dalam rumah, kemudian keluar dengan menenteng sebuah buku.
Buku tersebut menampilkan gambar ikan pada cover-nya, dengan bertuliskan “Arowana”. Max menawarkan kepada Yudi, untuk menggunakan nama ikan khas Kalimantan ini, yaitu Arwana. Yudi belum begitu paham awalnya, karena ikan Arwana ini di Kalbar dikenal dengan sebutan ikan silo’. “Cobe yak kau pakai name ikan ini.. Arwana.. ini jarang orang pakai name ikan ni..”
