Oleh : Khatijah
“Bille balik, Jah?” pertanyaan itu yang akhir-akhir ini berkumpul di benakku, entahlah rasanya liburan kali ini tidak sedikitpun niat yang terkumpul untuk pulang ke kampung. Bukan tidak ada rasa rindu, bukan hilangnya kenangan indah di kampung halaman, bukan juga melupakan proses yang ada di sana.
Bahkan aku lebih dari kata sangat merindukan suasana siang di rumah, ribut akan tetangga bergosip ria di teras rumah, apalagi saat aku menatap senja ingin sekali menyaksikannya di pantai Putri Serayi.
Pertanyaan yang dilontarkan ibu maupun saudaraku tentang kepulangan tak sama sekali membuat aku tergugah untuk pulang, tapi kali ini ayahku yang bertanya. Entah dengan niat apa dan bacaan apa yang dilakukannya sebelum bertanya kepadaku. Hati ini serasa dipukul telak tepat di jantung hingga membuat bergetar seluruh jiwa, ada beban yang menuntutku untuk pulang.
Suara berat itu, suara yang selama ini memperjuangkan masa depanku agar lebih baik, suara seorang lelaki yang selama ini dengan susah payah aku memanggilnya ayah karena memang sangat mengganjal untuk menetapkan hati bahwa dia adalah ayahku, ayah baruku.
