Community

Second Change

Second Change

“Keseimbangan itu ibarat tali teraju layangan.” Demikian ungkapan M. Nur Hasan alias Tok Ya.
Keseimbangan itulah, melahirkan kaya-miskin, susah-senang, naik-turun, atas-bawah. Banyaklah kata saling berlawanan tersebut bisa diungkap satu-satu hingga ada bumi ada langit.

Ada surga dan ada neraka. Bahasa Indonesia memiliki kata berlawanan disebut dengan antonim. Itu secara Bahasa kaya-miskin. Tapi Quran Menyebut Orang kaya dan berkecukupan.
“Mane miskin nye?”
Tak ade! Tak ade orang yang bernapas dengan nitrogen (isi angin untuk ban).
Semue perlu oksigen, oksigen untuk nafas kite sehari-hari.
Oksigen dari mane?
Oksigen atau udara untuk kita bernapas itu ada alam semesta ini gratis bentuknya.
Kalau sudah gratis ape bede kite dengan orang paling kaye sekali pon, same-same berkecukupan dalam menikmati gratis oksigen tersebut.
Semue punye hak untuk menikmati. Kenikmatan inilah yang tak disadari oleh manusie, betapa ada orang kaye dan berkecukupan. Cukup okigen, cukuplah napasnye.
Kalo dah cukup nafasnye, Insya Allah dimudahkan cari rezekinye.

Maka Nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

Diskusi kami pun terus mengalir hingga menghabiskan setengah cangkir kopi. Tapi ternyata pembicaraan ini masih berlanjut. Saya banyak menggangguk saja, sebagai tanda setuju atau sepakat yang Tok Yah sampaikan.

“Salah satu sumber oksigen itu adalah pohon.” Sambil menahan nafas sejenak, hirup kopi sekali lagi.