Sampailah pada suatu saat Ustadz Berri Elmakki didampingi salah satu imam Munzalan Mubarakan survey tanah di kawasan Jalan Perdana Ujung jantung kota. Sampai. Dilihat dan telah kuat niat membangun di Perdana Ujung. Azam pun telah disematkan, dan mereka bergerak pulang. Karena ada rasa mau kencing, maka mampirlah di Surau Nurul Iman tidak jauh dari pertigaan Jalan Reformasi Universitas Tanjungpura yang makmur sekali dengan jamaah warung kopi alias cafe-cafe.
Sekaligus ibadah shalat Duha yang dijamin berbuah kemurahan rizki dari Allah. Nah, seusai Duha, pada penutup salam H Muhammad Nur Hasan langsung berujar begini kepada Berri Elmakki, “Bagaimana kalau kita melihat tanah yang hendak dibangun mesjid oleh adik saya. Tapi bukan di dalam Kota Pontianak. Luar kota sedikit. Sebelah sananya Korpri. Dia sudah berniat membangun mesjid. Saya yang dampingi saat Tim Falaq Kanwil Kemenag menentukan arah kiblat sejurus waktu baru lalu. Baru saja dipatok dan diberikan marka tali nilon putih.” Demikian Nur Hasan yang sebelumnya adalah Sekretaris Yayasan Mujahidin–mesjid raya si mesjid terbesar dan terindah di Kalimantan Barat kepada Berri Elmakki yang baru 23 tahun usianya.
