Berri Elmakki menurut saja dan pergilah mereka dari Surau Nurul Iman ke daerah Parit Rintis, Jalan Sungai Raya Dalam II Ujung. Sesampai di sana, Berri Elmakki tak berpikir panjang lagi. “Di atas tanah wakaf ini–Tokya–di sinilah kita bangun mesjid Umar Bin Khattab,” ujar Berri kepada Nur Hasan yang akrab disapa Tokya. Berri Elmakki menyerahkan minyak wangi bermerk Sulthan kepada Tokya sebagai hadiah menemaninya mencari lahan untuk mesjid pemuda Umar Bin Khattab. Nah, demi menerima minyak wangi produksi sendiri Berri Elmakki dengan nama Sulthan, maka Nur Hasan pun teringat akan ayat Allah pada QS Bani Israil yang berisi perintah shalat Tahajjud di tengah malam, di mana sesiapa yang mengamalkannya, maka Allah akan berikan kedudukan mulia dengan kekuatan yang menolong. Kekuatan yang menolong inilah terminologi kata bahasa Arab sebagai dua kata: Sulthan Annashira.

Ustadz Berri Elmakki pun setuju dengan asbabun nuzul minyak wangi Sulthan yang telah berpindah tangan dengan nama mesjidnya kelak bernama “Sulthan Annashira”.
Progress di lahan wakaf itu fantastis. Dalam gemblengan Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin yang sukses dengan gerakan dakwah menggarap pemudanya, santri-santri mengalir deras dalam 3 bulan. Semula lahan kosong melompong nyaris setengah hutan, kini pendaftaran bergelombang macam riak tengah lautan.
