in

Sumpah (kami pernah) Pemuda

Sumpah kami pernah Pemuda

Oleh: Nur Iskandar

Alwaktu khasyaif. Waktu berjalan cepat. Tajam. Seperti mata pedang. Tidak pandang bulu. Hantam. Sesiapa tidak sadar akan detik per detik bergulirnya waktu jadi korban, tanpa sadar diri sudah menua. Ia menoleh ke belakang terlalu jauh untuk kembali. Menyesal dudi tiada arti lagi. Mau bikin perubahan, tenaga sudah kepayahan.
Orang tua suka bilang, “Mumpung masih muda…”

Kakekku bilang, “Menyesal dulu tanam satu. Coba 10. Menyesal dulu tanam 10, coba 100. Menyesal dulu tanam 100 coba 1000.” Itu filosofi tanam buah kelapa.
Kalau satu berbuah 10 maka 1000 sama dengan 10.000. Bayangkan jika per butir buah Rp 5000. Maka 50 juta enceng enceng masuk kantong saban bulan…

\Kami pernah muda. Pernah sekolah. Pernah malang melintang di berbagai organisasi. Sudah kenyang makan asam garam AD/ART dan progja mengarah pada visi misi. Sudah sendawa dengan UU yang diproduksi negara turunan dari UUD 1945. Derivasi idiologi Pancasila. Paham dengan cita cita merdeka. Ingin merasa dan mewariskan tanah yang adil lagi makmur sejahtera. Urat takut pun sudah putus, kecuali kepada Al Ilah. Tuhan. Ilahi. Ilallah!

Baca Juga:  Buku Hitam

Alhamdulillah. Puji Tuhan. Kami pernah bersumpah. Sumpah 1 nusa. 1 bangsa. 1 bahasa.

Alhamdulillah. Puji Tuhan. Kami ikut berkontribusi bagi pengukuhan 1 nusa dengan keliling Indonesia lewat karya nyata. Alhamdulillah. Puji Tuhan. Kami berkontribusi bagi 1 bangsa. Bangsa yang adil tanpa penindasan. Alhamdulillah. Puji Tuhan. Kami berkontribusi bagi bahasa persatuan. Bahasa Indonesia. Kami ekspose bahasa lokal agar dikenal. Kami pelajari dan serap bahasa internasional agar bisa berkomunikasi secara mondial. Kita mau hidup setara dengan bangsa bangsa maju sejagad. Kita bangsa pejuang!

Kini 92 tahun Sumpah Pemuda. Kami pun sudah tua. Alhamdulillah. Puji Tuhan. Lewat semangat 28 Oktober kami wariskan Kampoeng English Poernama. Mewariskan Teraju News Network. Mewariskan Pusdiklat TOP Indonesia.
Karim di sebelah saya juga pejuang era reformasi. Ia mewariskan SMK IT untuk kaderisasi. Kami sudah tua setidaknya merasa tua dan dituakan…

Bahwa hari ini 92 tahun Sumpah Pemuda, kami bersumpah bahwa kami pernah muda. Bagi kawula muda, doing better and the best. Alwaktu khasyaif. *

Baca Juga:  Sebuah Refleksi Perjalanan Pulang Kampung Batu Ampar: Masa Kejayaan itu Tinggal Kenangan

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

konser 25 th arwana band

Fena 2020: Koordinasi Teknis “1/4 Century of Arwana – Virtual Concert”

Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur

Testimoni Hut 1/4 Abad Arwana dari Peneliti Sejarah Hukum Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila