Dampak teknologi yang dihadirkan bukan hanya positif, tetapi pun sebaliknya. Krisis keyakinan beragama ialah faktor utama lahirnya pernikahan dini. Harus diakui, teknologi digital lebih banyak menawarkan kenyamanan yang instan dan mudah diperoleh. Sehingga seolah kenyamanan tersebut mengalahkan segalanya. Kasus siswi SMP yang dianiaya oleh 12 siswi SMA di Pontianak baru-baru ini sudah cukup menjadi bukti betapa digital sangat memengaruhi karakter remaja. Disebut apalagi jika dugaan perlakuan bejat itu masih saja menampilkan sikap tidak bersalah dari pelaku kalau bukan karena tidak dibentengi oleh nilai-nilai beragama?
Solusi yang Diharapkan
Sudah semestinya pernikahan dini di luar aturan bernegara maupun beragama dientaskan. Jika tidak, arus teknologi akan menumbangkan moral generasi milenial. Menurut hemat penulis berdasarkan nalar pribadi dan pengamatan lingkungan bermasyarakat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai alternatif preventif dan represif guna mencegah atau meminimalisir terjadinya pernikahan dini.
Pertama, Spiritualisasi Beragama Remaja. Spiritualisasi beragama merupakan pembentukan jiwa remaja untuk mengenal agama. Tidak ada kebenaran sejati selain didapat dari beragama (Islam). Spiritualisasi beragama ditempuh dengan pembentukan kajian-kajian intensif yang diarahkan oleh orang tua remaja maupun lembaga tempat bersekolah. Peran orang tua sangat vital untuk mengendalikan dan mengawasi anak-anaknya berselancar di media dalam jaringan (online).
