Di antara hal yang dapat memperkuat pemikiran dan kecerdasan adalah memperbanyak diskusi. Diskusi dikalangan mahasiswa sebagai cendekia muda sudah tidak asing lagi, belajar model dialetika ini akan semakin meningkatkan kadar intelektual seorang mahasiswa agar bisa menjadi agen perubahan yang mumpuni dalam bidangnya. Bukan sepenuhnya dikatakan mahasiswa jika kemudian diskusi tidak dikembangkan di dunia perkampusan, ketika melihat intensitas keaktifan diskusi antara seorang mahasiswa dan dosen ternyata berasio 75% mahasiswa dan 25% dosen. Bisa dikatakan mahasiswa dituntut aktif dalam setiap diskusinya sementara dosen adalah katalisator sekaligus fasilitator yang menunjukkan jalan tengah.
Ironisnya, di zaman serba instan dan modern ini diskusi menjadi sesuatu yang vakum di kalangan mahasiswa. Ruang kelas layaknya sebuah perpustakaan dengan aturan tidak boleh bising dan harus tenang. Cendekia muda diam membisu, bagaimana mungkin bisa menjadi seorang agen perubahan yang memberantas degradasi moral dinegeri ini belum lagi berbagai kasus yang melibatkan berbagai pihak. Diskusi memang bukan sepenuhnya sebagai jaminan keberhasilan seorang mahasiswa, tapi teori dan praktek akan lebih valid kebenarannya dengan adanya diskusi.
