Opini

Ayam Petelur dan “Distruption” itu Nyata, Digitalisasi sebagai Solusi itu Fakta

Ayam Petelur dan “Distruption” itu Nyata, Digitalisasi sebagai Solusi itu Fakta

Ia mengungkapkan tesa bahwa banyak pelaku ekonomi yang tidak menyadari era digital telah memangsa margin profitnya. Sang raja pasar bisa sekejap terkapar. Disruption istilahnya.

Menurut Rhenald, disruption mengubah banyak hal, sehingga cara-cara bisnis lama menjadi usang atau ketinggalan zaman. Persis seperti sebagian besar bangunan pabrik es yang kini telah berubah menjadi “rumah hantu”, atau mesin faksimili yang sekarang hanya teronggok di sudut ruangan.

Nokia tidak merasa telah melakukan kesalahan apapun. Seluruh teori bisnis konvensional mereka lakoni. Top manager mereka rekrut. Tapi kebangkrutan tetap menerpa.

Nokia “hanya” lupa membuka pintu hati saat Android menyerbu pasar.

Pada skala lokal, pedagang Mangga Dua dan Glodok garuk-garuk kepala yang tak gatal. Tidak ada kesalahan yang mereka lakukan dalam product, price, place; namun tiba-tiba profit mengecil, omset menguap. Tak ayal, toko pun ditutup paksa.

Mereka “hanya” menutup mata saat transaksi online di Tokopedia sudah mencapai angka 1 trilyunan per bulan. Dan, Alibaba bersiap menggelontorkan 14 triliun untuk Tokopedia. Patut diingat, itu uang semua.

Tak pelak disrupsi di era digital ini menciptakan kegamangan bagi pelaku bisnis konvensional, khususnya di negeri kita.