Kita di Indonesia, baru memposisikan diri hanya sebagai konsumen teknologi, teraniaya pula, hingga yang lahir hanya share-an hoax lewat Facebook. Kreatifitas kita di dunia online baru sebatas kemunculan istilah bumi bulat vs bumi datar. Nasi bungkus vs nasi kotak, dan sebagainya. Sehingga yang sibuk hanya pak polisi yang terus menerima laporan pencemaran nama baik. Energi tercurah untuk hal rempah-rempah.
Bukankah bila kita benar-benar memanfaatkan dunia online maka yang “repot” itu Kementerian Perdagangan dan UKM? Kementerian Perdagangan direpotkan mencatat hasil positif pertumbuhan ekspor Indonesia yang meningkat lewat transaksi online. Indonesia menjadi “top 5” ekonomi dunia. Atau ini hanya sekedar mimpi saya saja…
Saat ini, banyak yang masih merasa bahwa bisnis dengan membuka toko di pasar sentral, menjadi kontraktor rekanan pemerintah, dan mengeruk sumber daya alam—merupakan bisnis yang tidak akan pernah rugi. Kini, kenyataan berkata lain: toko di pasar dibabat marketplace; proyek e-KTP menyisakan borok yang dalam; dan harga batubara melorot tajam. Semua akan berakhir pada waktunya…
Saya berharap, digitalisasi bisa menjadi solusi. Dan, dunia online mampu menjadi kunci bagi masalah bangsa.
