Opini

“Demokrasi Gejet”

“Demokrasi Gejet”

Sebelum bubar tentu saja saya kasih aba-aba. Halo-halo. Ucapan terimakasih atas kerjasama eratnya. Seraya mohon maaf atas segenap salah dan khilaf. Semoga hasil akhir berupa goal penetapan Unesco atas WBTB Pantun kelas dunia menjadi amal jariyah bersama sekaligus terpahat dengan tinta emas bagi para pelakunya di zamannya. Apalagi ditambah tembang lawas Arwana. Angsa Putihku….melangkah jauh….(Sebuah prestasi terukir di kala pandemi membuat banyak inovasi matisuri).

*

Sebagai jurnalis, menurut Bill Kovack–penulis Sembilan Elemen Jurnalisme–tokoh Narrative Reporting–buka pintu 1×24 jam adalah tabiat demokratis. Jurnalis menjadi corong aspirasi dan mimpi masyarakat. Oleh karena didikan Bill Kovack itulah saya selalu menerima ajakan pertemanan dalam satu grup. Tidak pernah menolak, sekeras apapun, sepahit apapun. Termasuk soal 212 dan Ahok tempo hari, hingga kini soal FPI. Saya sudah terbiasa di dapur redaksi selama 25 tahun terakhir membaca naskah aliran keras sampai berdarah-darah sekalipun. GPP. Esensinya yang saya cari dan kemudian diberitakan sebagai muara demokrasi. Baru kali ini saya membuat grup dan saya pula yang membubarkannya. Maka kesannya teramat dalam. Walaupun tentu saja sudah ada aba-aba dan tanda-tanda sebelumnya. Saya berharap itu adalah cara yang baik dan demokratis.