Opini

“Demokrasi Gejet”

“Demokrasi Gejet”

Alhasil dua kegiatan di atas sukses secara penyelenggaraaan. Walaupun di tengah visual terbatas, dan virtual tanpa batas. Big Success bahkan karena sehari setelah Serumpun Berpantun, Unesco pun ketuk palu di markas besarnya Paris-Perancis. Pantun menjadi WBTB “world-class” punya. Ini yang membuat saya enggan menghapus WAG Festival U Unesco. Saking beratnya, ya harus saya awetkan dalam narasi hari ini di mana saya telah membubarkan karena saya satu-satunya admin pendiri WAG tersebut. Pertimbangannya adalah japri pun bisa, sehingga gejet dalam genggaman masing-masing tokoh dan pakar bisa lebih remah dan sumringah. Maklum setiap hari bisa lahir WAG baru bagi para tokoh dan pegiat profesional dengan pertimbangan goal macam-macamlah.

WAG Festival U Unesco ini keren. Kompak. Bersatu. Tiada konflik dan polemik. Macam tim sepakbola kelas dunia. Bola di kaki siapa tak peduli, terpenting goalnya.

Saya memberikan gambar pada WAG Festival U Unesco itu bulan – bintang. Bulan melingkari bintang bersudut lima. Hanya satu sudut saja tajam keluar sebagai isyarat “biar pecah di perut jangan pecah di mulut”. Bersatu. Itu kuncinya. Satu suara, walau di dalam banyak aspirasinya. Alhasil, lambang WAG ini mesti saya abadikan dalam narasi Demokrasi Pergejetan ini.