in

“Demokrasi Gejet”

demokrasi gejet


Oleh: Nur Iskandar

Hari ini adalah hari bersejarah bagi saya. Suatu grup yang saya bangun dengan susah payah, saya bubarkan. Pembubaran ini didasarkan pada pertimbangan bahwa goal pembuatan grup telah tercapai, sedangkan taraf komunikasi aktif bisa berlanjut japri-jaringan pribadi. Grup yang dibubarkan membuat para pihak jadi relaks dan ringan kapasitas beban di gejet dalam genggaman.

Grup yang saya bubarkan itu bernama Festival untuk Unesco. Dibentuk empat bulan silam. 27 Agustus 2020. Masih sangat muda-belia usianya.

Grup Festival U Unesco ini lahir dari sebuah Podcast bersama pakar bahasa ibu di Balai Bahasa Kalbar Dedi Ari Aspar dan Kyai Pengamat Sastra Khairul Fuad. Dari wawancara yang naik ke platform Teraju.Id kanal YouTube itu terbetik sebuah fakta, bahwa bumi khaTULIStiwa ini adalah “Tanah Nenek Moyangnya Bahasa Melayu Nusantara”. Dari sana kami seriusi menjadi Festival Nadi khaTULIStiwa. Ada dua agenda besarnya. Pertama Hut Seperempat Abad Grup Band papan atas nasional Arwana. Kedua, Serumpun Berpantun. Kebetulan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Kalbar yang diketuai Prof Dr H Chairil Effendy, MS dapat amanah untuk menyelenggarakan sebuah event “Daily Life Pantun” di Tanah Melayu sehingga bisa mendorong Unesco menetapkan pantun sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Alhasil dua kegiatan di atas sukses secara penyelenggaraaan. Walaupun di tengah visual terbatas, dan virtual tanpa batas. Big Success bahkan karena sehari setelah Serumpun Berpantun, Unesco pun ketuk palu di markas besarnya Paris-Perancis. Pantun menjadi WBTB “world-class” punya. Ini yang membuat saya enggan menghapus WAG Festival U Unesco. Saking beratnya, ya harus saya awetkan dalam narasi hari ini di mana saya telah membubarkan karena saya satu-satunya admin pendiri WAG tersebut. Pertimbangannya adalah japri pun bisa, sehingga gejet dalam genggaman masing-masing tokoh dan pakar bisa lebih remah dan sumringah. Maklum setiap hari bisa lahir WAG baru bagi para tokoh dan pegiat profesional dengan pertimbangan goal macam-macamlah.

WAG Festival U Unesco ini keren. Kompak. Bersatu. Tiada konflik dan polemik. Macam tim sepakbola kelas dunia. Bola di kaki siapa tak peduli, terpenting goalnya.

Baca Juga:  "Gong Xi - Gong Xi"

Saya memberikan gambar pada WAG Festival U Unesco itu bulan – bintang. Bulan melingkari bintang bersudut lima. Hanya satu sudut saja tajam keluar sebagai isyarat “biar pecah di perut jangan pecah di mulut”. Bersatu. Itu kuncinya. Satu suara, walau di dalam banyak aspirasinya. Alhasil, lambang WAG ini mesti saya abadikan dalam narasi Demokrasi Pergejetan ini.

Sebelum bubar tentu saja saya kasih aba-aba. Halo-halo. Ucapan terimakasih atas kerjasama eratnya. Seraya mohon maaf atas segenap salah dan khilaf. Semoga hasil akhir berupa goal penetapan Unesco atas WBTB Pantun kelas dunia menjadi amal jariyah bersama sekaligus terpahat dengan tinta emas bagi para pelakunya di zamannya. Apalagi ditambah tembang lawas Arwana. Angsa Putihku….melangkah jauh….(Sebuah prestasi terukir di kala pandemi membuat banyak inovasi matisuri).

*

Sebagai jurnalis, menurut Bill Kovack–penulis Sembilan Elemen Jurnalisme–tokoh Narrative Reporting–buka pintu 1×24 jam adalah tabiat demokratis. Jurnalis menjadi corong aspirasi dan mimpi masyarakat. Oleh karena didikan Bill Kovack itulah saya selalu menerima ajakan pertemanan dalam satu grup. Tidak pernah menolak, sekeras apapun, sepahit apapun. Termasuk soal 212 dan Ahok tempo hari, hingga kini soal FPI. Saya sudah terbiasa di dapur redaksi selama 25 tahun terakhir membaca naskah aliran keras sampai berdarah-darah sekalipun. GPP. Esensinya yang saya cari dan kemudian diberitakan sebagai muara demokrasi. Baru kali ini saya membuat grup dan saya pula yang membubarkannya. Maka kesannya teramat dalam. Walaupun tentu saja sudah ada aba-aba dan tanda-tanda sebelumnya. Saya berharap itu adalah cara yang baik dan demokratis.

Yang saya tak habis pikir adalah saya diundang dan saya dikeluarkan. Tak ada tanda-tanda. Tak ada aba-aba. Tetiba saja grup bubar. Aneh tapi nyata. Inilah pentingnya tulisan ini. Bahwa kita di dunia maya juga perlu etika. Bukan apa-apa, menjaga asa, rasa dan karsa. Agar tema dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat tetap membawa manfaat. Tak ada huru-hara dan syakwasangka.

Baca Juga:  Kalimantan Barat Menjadi Wadah Toleransi Kebhinnekaan

Domain WAG juga adalah wakil rakyat. Dalam grup itu aspirasi dicuitkan. Ia adalah realitas. Bagi saya, jurnalis, WAG adalah tampilan sebagian kecil rakyat yang harus didengar. Walaupun “silent reader”. Meski ada pola untuk bisa membaca semuanya. Ambil yang penting-penting, namun tetap mengikuti rentak gendang kehidupan. Jika muatannya teralu banyak dan memberatkan memori, mau tak mau, suka tak suka, dihapus.

Yang saya tidak habis pikir pula adalah anggota keluar alias “left” tanpa pamit. Tanpa ba-bi-bu, eh left. Bagaimana ini? Menurut saya, azas demokrasi darat mesti dibawa pula ke udara agar setara. Masuk pamit-keluar pamit. Sopan adanya. Jika “cabut” tanpa pamit, menimbulkan tanda tanya.

Biasanya anggota grup berbaik sangka. Dan ini yang kita harapkan bersama. Namun kadang ada yang bertanya, apakah ada cuitan yang menyebabkannya tersinggung lalu left? Dst. Dsb. Inilah perlunya komunikasi lewat “pamit” tersebut agar tidak jadi tanda-tanya lagi. Kita angkatlah marwah etis dan sopan serta santun, laksana pantun: jika ada jarum yang patah// jangan disimpan di dalam peti// jika ada kata-kata yang salah// jangan disimpan sampai mati//

Sebaliknya demokrasi pergejetan mestinya membawa aura demokrasi yang sopan dan santun laksana pantun pula: Dari mana datangnya lintah// dari sawah turun ke kali// Dari mana datangnya cinta// dari mata turun ke hati//

Kita berharap demokrasi pergejetan adalah demokrasi cinta di mana komunikasi terjalin komunikatif. Biarlah pecah di perut asal jangan pecah di mulut. Bulan Bintang. Bersatu teguh — Bercerai Runtuh.

Kalau “left” berkabarlah. Bersama kita jaga marwah. Bersama kita wariskan etos demokrasi berkualitas kepada generasi muda setelah kita.

Kepada pembaca kami wariskan pula WBTB Pantun yang sopan dan santun. Mari kita rawat sebagai sastra lisan yang terbukti efektif meyatukan nusantara. *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

sirajul islam

Dua Dzulkarnain

IMG 20210114 WA0063

Selamat Jalan Syech