Yang saya tak habis pikir adalah saya diundang dan saya dikeluarkan. Tak ada tanda-tanda. Tak ada aba-aba. Tetiba saja grup bubar. Aneh tapi nyata. Inilah pentingnya tulisan ini. Bahwa kita di dunia maya juga perlu etika. Bukan apa-apa, menjaga asa, rasa dan karsa. Agar tema dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat tetap membawa manfaat. Tak ada huru-hara dan syakwasangka.
Domain WAG juga adalah wakil rakyat. Dalam grup itu aspirasi dicuitkan. Ia adalah realitas. Bagi saya, jurnalis, WAG adalah tampilan sebagian kecil rakyat yang harus didengar. Walaupun “silent reader”. Meski ada pola untuk bisa membaca semuanya. Ambil yang penting-penting, namun tetap mengikuti rentak gendang kehidupan. Jika muatannya teralu banyak dan memberatkan memori, mau tak mau, suka tak suka, dihapus.
Yang saya tidak habis pikir pula adalah anggota keluar alias “left” tanpa pamit. Tanpa ba-bi-bu, eh left. Bagaimana ini? Menurut saya, azas demokrasi darat mesti dibawa pula ke udara agar setara. Masuk pamit-keluar pamit. Sopan adanya. Jika “cabut” tanpa pamit, menimbulkan tanda tanya.
