Opini

Diperbudak Komentar

Diperbudak Komentar

“Hidup kok gak mikirin diri sendiri, hidup kok mikirin orang lain terus. Hidup kok kerjaannya berkorban, kapan kaya nya kalo begitu!”

Karena Anda kesal, dikomentarin terus, dan akhirnya Anda memilih berhenti lagi.

Kali ini setelah berhenti waktu Anda ternyata habis. Malaikat maut datang :

“Ente sampai kapan akrobat terus, mati aja ya… Jadi gak ada yang komentar”.

*

Waktu terbatas. Hidup adalah karunia Allah azza wa jalla. Cukup-cukup lah menjadikan komentar manusia sebagai “tuhan” baru dalam hidup mu.

Allah azza wa jalla melarang kita untuk syirik. Syirik itu mensyarikahkan Allah dengan yang lain. Anda bikin koalisi tuhan.

Anda sembah Allah, tapi Anda sembah juga komentar orang lain.

Anda sujud ke Allah, tapi Anda sujud juga kepada tepuk tangan orang lain.

Anda berharap ke Allah, tapi Anda juga berharap kepada dukungan orang lain.

Cukup-cukuplah rusak tauhid.

Hidup itu sederhana, setiap kita kemampuan beda-beda, maka tugas dan misinya pun beda-beda.

Kita sedang membangun perlombaan pada diri kita sendiri. Memacu diri kita untuk mencapai capaian lebih baik dari apa yang kita capai sebelumnya.

Kita tidak dituntut untuk berpacu dengan lintasan orang lain. Karena sejatinya manusia tidak berada di lintasan pacuan yang sama.