Opini

Dokter Frans Tjuka

Dokter Frans Tjuka
Dr Leo Sutrisno

“Oh, oh, maaf, Dok! Ada penugasan lagi?!”

“Tak apa” Ucapnya tenang kebapaan. “Saya minta tolong. Coba bantu analisis. Saya ingin mengkonfirmasi. Tampaknya pandemi TB bakal datang”

Saya melihat lembaran data yang disodorkan. “Bagaimana menurutmu?” Tanyanya. Selanjutnya, hingga jam kantor selesai, kami terlibat dalam diskusi yang inten tentang TBC.

“Sampai jumpa besok, Wie!” Katanya pendek sambil bersiul berlalu. Saya pandangi lelaki itu dari balik pintu. “Heeemmm, pemuda Manado”.

Saya mendengar dari koleganya, ia pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Ketika ia sedang mengikuti program Dokter Inpres, perusahaan ayahnya bangkrut. Tidak lama kemudian ia telah menjadi anak yatim bersama kedua adiknya.

Ia membanting tulang untuk menghidupi dan membiayai pendidikan adik-adiknya hingga tamat sarjana dan berumah tangga. Ia memilih tidak berkeluarga lebih dahulu. Ibunya tak dapat mencegahnya. Sayang, keterusan hingga kini.

CO-Ass putaran bagian itu saya rasakan sangat cepat. Beberapa minggu di rumah menunggu jadwal putaran berikutnya, ibu berkesempatan menyelidik.
“Wie, engkau sendiri yang harus mengambil keputusan”. Katanya di suatu hari.

Tak lama usai wisuda, datang tawaran program Dokter PTT. Dokter Frans menyarankan ambil daerah terluar dan terpencil. Pilihan saya jatuh di Kabupaten Natuna, tepatnya di Puskesmas Kecamatan Serasan.