Opini

Dokter Frans Tjuka

Dokter Frans Tjuka
Dr Leo Sutrisno

Sambil memandangi batas lengkungan langit terngiang kembali ucapan A Pho Chi. “Kalau seorang wanita itu mencintai seseorang, cintanya utuh. Kelak jika telah berjumpa dengan pilihan hati, dokter akan merasakan betapa tidak mudah melupakan segala sesuatu tentang dirinya. Di rumah ini tersimpan banyak kenangan baik dalam suka maupun dalam duka. Apalagi, ia juga tidur di belakang sana. Aku tidak dapat meninggalkannya. Biarlah anak-anak yang ke sini, jika mau”

Saya menengadah, di tengah langit melintas seberkas terang yang cemerlang. Angin buritan yang dingin mulai menyusup jaket. Saya tinggalkan bangku-bangku yang membisu menanti sepi.

Sampai di dek, sudak tidak ada satu penumpang pun yang masih terjaga. Semua sudah tertidur pulas. Bahkan, ada yang mendengkur kuat. Penumpang sebelahnya menutup kuping dengan lipatan handuk.

Saya intip wajah di balik cermin tas jinjing. Saya tersenyum melihat wajah cerah berseri. “Wie, waktumu telah tiba” Bisik saya lirih ke wajah itu.

Sambil membujurkan badan di kasur, pikiran saya melayang ke masa CO-Ass. Sore itu, saya sendirian di ruang bimbingan, masih ada tugas yang belum terselesaikan.

“Tidak baik sore-sore melamun. Nanti kemasukan roh yang banyak gentayangan di sekitar sini. Dulu, ini ruang operasi, …”. Saya kaget, tergagap. Dokter Frans Tjuka sudah berdiri di depan meja saya.