Opini

Dokter Frans Tjuka

Dokter Frans Tjuka
Dr Leo Sutrisno

Saya pergi ke buritan mencari angin. Di bangku masih ada beberapa orang duduk-duduk sambil menikmati air kopi instan yang dapat di beli di depot sebelah.

“Silahkan dokter. Tidak bisa tidur, ya?!. Silah duduk di sebelah saya sini” Oh!, rupanya, Bu Camat bersama stafnya.

Baca Juga:Pasinaon: Rukun

“Terima kasih, Bu. Maaf, saya bergabung, ya!”

“Tak apa, Dokter. Kami sedang bernostalgia. Ingat masa kuliah. Masa seusia dokter” Sahut pak Sekcam sambil merangkul pundak istrinya.

“Dulu, tidak ada kapal sebesar ini. Cuma, kapal kayu Madura yang datang ke kepulauan membawa sapi dan sembako. Baliknya, kami tumpangi hingga Ponti. Dari sana ganti kapal barang menuju Sunda Kelapa atau Semarang. Tak ada tempat penumpang. Yaaa, nyelip-nyelip di antara karung-karung cengkeh dan getah. Begitu turun dari kapal, kusut dan bau” Lanjut pemumpang lain.

Menjelang tengah malam, satu persatu mengundurkan diri. Penjaga depot pun sudah lama menutup pintu. Malam di tengah laut lepas berhiaskan kerlap-kerlip bintang yang tersebar di seluruh lengkung langit, Kapal Bukit Raya tampak perkasa.