Seminggu sebelum berangkat, sembari duduk-duduk di teras rumah, ibu bertanya, “Wie apa yang sedang kau pikirkan? Besok kau temui. Berpamitlah”
“Ah, Ibu. Rasanya, saya belum sungguh jatuh cinta” Namun, wajah dokter Frans tidak mau pergi dari bayangan.
“Wie, aku ini ibumu” Ayah membetulkan kacamatanya. Adik berdua berlari berkejaran dengan kucing tanpa tujuan.
“Bu, apakah seorang lelaki setengah baya bisa jatuh cinta pada seorang wanita yang usianya jauh lebih muda?”.
“Wie, cinta itu suatu misteri. Dia bisa menimpa siapa saja. Cinta dapat melintasi jurang perbedaan harta, pangkat, derajad, bahkan usia. Kau ingat, Sastra Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu? Sebuah lakon perjuangan cinta seorang gadis Sukesi kepada Begawan Wisrawa, suadara seperguruan bapaknya?!”.
“Wie, ibu dan ayah akan selalu mendukung pilihanmu. Hanya…, sebelum memutuskan lihatlah lebih dahulu pilihan-pilihan lain yang mungkin ada”.
Terompet kapal membuyarkan lamunan saya. Ternyata saya bergadang sepanjang malam. Pagi subuh, kapal Bukit Raya sudah berlabuh di Pontianak.
Mudah-mudahan, dokter Frans sudah di depan pintu utama. Oh, ternyata tante Ranti yang menjemput. Ia adik sepupu almarhum ayah dokter Frans.
Dua minggu di Pontianak berlalu dengan cepat. Di bawah tangga kapal Sirimau yang akan membawa saya kembali ke kepulauan, dokter Frans mengecup kening. Saya ingat kecupan ayah.
