Opini

Gubernur itu Penguasa, Bukan Pengasuh, Maka Wajar Jika Ia Marah

Gubernur itu Penguasa, Bukan Pengasuh, Maka Wajar Jika Ia Marah

Dalam dunia pesantren, Kiai itu bukan penguasa walau posisinya sama dengan gubernur, pejabat tertinggi di wilayahnya. Akan tetapi seorang kiai bagaikan seorang ayah bagi para santrinya.

Seorang kiai adalah seorang pengasuh.

Istilah pengasuh ini digunakan di pesantren karena warga pesantren, yaitu para santri, sejatinya adalah anak-anak asuh Kiai. Karena tugas utamanya adalah mengasuh, maka seorang kiai di pesantren seringkali disebut “pengasuh”.

Di negara kita, Gubernur adalah jabatan tertinggi di sebuah provinsi. Jabatan itu adalah jabatan yang bersifat politis. Hubungan antara gubernur dan warga adalah hubungan antara penguasa dengan hamba (orang yang dikuasai).

Sementara dalam dunia kepesantrenan, hubungan kiai dengan santri adalah seperti hubungan antara ayah dan anak. Landasannya kasih sayang.

Dalam budaya nusantara, nilai dasar kepengasuhan adalah kasih sayang. Makanya seorang ayah atau ibu yang sedang menjaga anaknya sering diungkapkan dengan kalimat, “ia sedang mengasuh anaknya”. Dan bukan “ia sedang menguasai anaknya”.

Karena basis falsafahnya adalah kasih dan sayang, maka seorang ayah atau seorang seorang ibu tak mungkin baper kepada anak yang diasuhnya, sekalipun anaknya bersikap tidak wajar. Misalnya minta susu di tengah malam, nangis-nangis saat kita sedang sibuk bekerja, bahkan mem-pipis-kan atau meng-eek-kan baju kita, saat kita sedang menggendongnya. Tak boleh baper!