Kalau baper, kalau merajuk dengan anaknya sendiri, ayah atau ibu itu malah justru akan menjadi aneh. Ayah kok baperan, ibu kok merajukan. Hahaa.
Demikian juga seorang kiai. Seorang kiai memandang para santri sebagai anaknya sendiri. Hubungan antar keduanya adalah seperti hubungan orang tua dengan anaknya, didasari oleh kasih dan sayang.
Di kampung-kampung, santri-santri asuhan para Kiai banyak yang bandel. Siang mengaji, sore main judi. Sore mengaji, malamnya menjaga tempat prostitusi.
Namun, para kiai jarang yang baper saat mengasuh santri-santri bandel seperti ini. Para santri tetap diasuh, mereka tetap dianggap seperti anaknya sendiri. Para santri akan terus dibimbing, sembari berharap mudah-mudahan suatu saat kelak, para santri bandel itu akan berubah menjadi manusia yang lebih baik.
Di beberapa tempat, sering pula ada santri yang nakalnya ekstrem banget. Ada yang mengejek, bahkan memfitah kiainya. Tapi kiai-kiai yang diperlakukan seperti itu tak lantas baper. Mereka justru mendoakan anak-anak asuhnya yang bermasalah itu.
Para kiai sadar, kalau ia ikut-ikutan mengejek saat diejek, kalau ia ikut-ikutan memfitnah saat difitnah, maka derajat kekiaiannya, derajat kepemimpinannya bukan justru naik, tapi malah turun.
