Selandjutnja meminta saja untuk mengubah bagian tjakar kaki mendjadi mentjekram pita/mendjadi ke arah depan pita agar tidak “terbalik” dengan alasan ini berkaitan dengan prinsip “djatidiri” bangsa Indonesia, karena merupakan perpaduan antara pandangan “federalis” dan pandangan “kesatuan” dalam negara RIS, mengertilah saja pesan filosofis Paduka Jang Mulia itu, djadi djika “bhinneka” jang ditondjolkan itu maknanja perbedaan jang menondjol dan djika “keikaan” jang ditondjolkan itulah kesatuan republik jang menondjol, djadi keduanja harus disatukan, karena ini lambang negara RIS jang di dalamnja merupakan perpaduan antara pandangan “federalis” dan pandangan “kesatuan” haruslah dipegang teguh sebagai “djati diri” dan prinsip berbeda-beda pandangan tapi satu djua, “e pluribus unum”.
Walapun saja harus susah pajah membuat sketsa kembali untuk pembentulan bagian tjakar kaki itu, tetapi saja mengerti ini hal bagian jang sangat penting dalam lambang negara RIS, karena mengandung tiga konsep lambang sekaligus, jakni pertama, burung Radjawali-Garuda Pantja-Sila jang menurut perasaan bangsa Indonesia berdekatan dengan burung Garuda dalam mitologi, kedua perisai idee Pantja-Sila ber”thawaf”/gilir balik, dan ketiga, seloka Bhinneka Tunggal Ika jang tertulis dalam pita warna putih.
