Falsafah “thawaf” mengandung pesan, bahwa idee Pantja-Sila itu bisa didjabarkan bersama dalam membangun negara, karena ber”thawaf” atau gilir balik menurut bahasa Kalimantannja, artinja membuat kembali-membangun / vermogen jang ada tudjuannja pada sasaran jang djelas, jakni masjarakat adil dan makmur jang berdampingan dengan rukun dan damai, begitulah menurut Paduka Jang Mulia Presiden Soerkarno, arah falsafahnja dimaksud pada udjungnja, jakni membangun negara jang bermoral tetapi tetap mendjunjung tinggi nilai-nilai religius masing-masing agama jang ada pada sanubari rakjat bangsa di belahan wilajah negara RIS serta tetap memiliki karakter asli bangsanja sesuai dengan “djatidiri” bangsa/ danja pembangunan “nation character building” demikian pendjelasan Paduka Jang Mulia Presiden Soekarno kepada saja.
Saja sedjudjurnja hanja berupaja mengangkat kembali lambang-lambang/simbol-simbol jang ada diperadaban klasik bangsa ini bersama anggota Panitia Lambang Negara itulah sebenarnja semangat gotong rojong lewat perentjanaan gambar lambang negara RIS sebagaimana ditugaskan kepada saja selaku Menteri Negara Zonder Porto Folio, karena memang tidak ada tugas lain untuk saja sebagai Menteri Negara selain merentjanakan lambang negara dan menjiapkan gedung parlemen RIS, saja berharap agar kelak bangsa ini ditjintai oleh kita semua bertekad untuk memadjukan-membangun bersama.
